Bahasa Suku Abun di Tengah Arus Perkembangan Zaman

Suku Abun pose bersama Kemenkraf pada kunjungan ke Kabupaten Tambrauw

Bahasa daerah sebagai salah satu kekayaan bangsa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi bagi masyarakat pendukungnya. Selain sebagai alat komunikasi intra etnik, bahasa daerah juga berfungsi sebagai pendukung bahasa nasional yakni bahasa Indonesia.

Bahasa daerah atau bahasa suku merupakan bahasa yang pertama kali dikenal dan dikuasai seorang anak ketika lahir. Bahasa suku ini kemudian dikenal dengan istilah bahasa ibu.

Bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir.

Hari Bahasa Ibu Internasional pertama kali dideklarasikan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 17 November 1999 atas usul seorang Bengali.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa meyakini bahasa ibu penting dilestarikan agar terhindar dari kepunahan. Sejak Oktober 2019, badan bahasa telah memetakan bahasa-bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu masyarakat Indonesia. Jumlahnya kini ada sebanyak 718 bahasa daerah yang tersebar di pelosok Tanah Air.

Dari sekian jumlah bahasa daerah atau bahasa ibu yang tersebar di setiap suku di Indonesia salah satunya adalah bahasa Suku Abun. Abun dalam etimologi kata berarti bahasa ular. A artinya bahasa dan Bun berarti ular. Jika diterjemahkan secara harafiah berarti bahasa ular.

Dengan nada canda Kepala LMA Suku Abun, Nelwan Yeblo mengaku, orang Abun berbicara bahasa ular. Namun bukan istilah harafiah yang mau ditekankan melainkan kekayaan bahasa suku itu sendiri yang membudaya sampai saat ini.

Menurutnya bahasa Abun ini merupakan bahasa yang sudah lama diwariskan dan masih eksis hingga saat ini. Suku Abun yang membawahi 24 marga berada dalam satu bahasa yakni bahasa Abun. Memang, katanya ada perbedaan dalam dialektika namun itu tidak mengurangi substansi bahasa Abun itu sendiri.

Ketua LMA Suku Abun, Nelwan Yeblo

Diakui, bahasa Abun merupakan satu kesatuan dengan potensi lain yang telah membudaya. Sistem pewarisannya pun sederhana yakni setiap orang tua wajib hukumnya memberikan pemahaman dan pengertian soal bahasanya sendiri melalui dialog sehari-hari.

“Jadi orang tua punya kewajiban mewariskan kepada anak-anak mereka dengan menjadikan bahasa Abun sebagai bahasa sehari-hari sehingga nantinya anak-anak pandai dan fasih berbicara bahasa asalnya,” akunya kepada media ini dibalik telepon selulernya, Kamis (18/2).

Dia pun mengakui keanekaragaman bahasa daerah ini menjadikan bahasa daerah rentan punah. Pasalnya, semakin ke sini penduduk Indonesia semakin kehilangan penutur bahasa ibu itu.

Mengutip dari laman resmi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), proses globalisasi telah membuat keanekaragaman budaya di dunia memudar. Hal ini dapat membuat peluang, tradisi, ingatan, cara berpikir dan ekspresi yang unik dari setiap daerah yang berbeda dapat menghilang.

Berdasarkan data PBB, terdapat setidaknya 43 persen dari sekitar 6000 bahasa yang digunakan di dunia terancam punah. Hanya beberapa ratus bahasa yang benar-benar telah mendapat tempat dalam sistem pendidikan dan domain publik, dan kurang dari seratus digunakan di dunia digital.

Jika dikaitkan dengan eksistensi Bahasa Abun memang benar bahwa ada pergeseran. Namun pergeseran hanya sebatas pada bagian tertentu saja. Misalnya pada masyarakat Abun yang sudah menetap di wilayah kota tentu secara otomatis dan tidak leluasa menjadikan bahasa Abun sebagai bahasa sehari-hari.

“Orang Abun masih kental dengan bahasanya khususnya yang tinggal di pedalaman, berbeda dengan yang di kota,” sebutnya.

Orang Abun yang masih tinggal di pedalaman menjadi dasar pertahanan bahasa daerah di tengah arus perkembangan yang terus memberikan dampak kepunahan. Jadi, ketika masyarakat Abun yang tinggal di kota telah kehilangan bahasa asalnya, orang Abun pedalaman menjadi penyelamat eksistensi bahasa Abun sendiri. (Jvn)

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *