Ini Kata Dokter Soal Lambatnya Penyembuhan Pasien COVID-19 di Kota Sorong

Sorong, PbP – Jumlah kasus positif COVID-19 di Kota Sorong, kini mulai meningkat yang saat ini sudah mencapai 56 orang. Namun peningkatan kasus ini tidak disertai dengan jumlah orang yang sembuh.

Hal ini mengundang pertanyaan di kalangan masyarakat, terkait kendala yang menyebabkan sehingga hingga saat ini tidak ada penyembuhan seperti halnya di daerah lain. Sementara dari total keseluruhan 56 kasus positif, baru satu orang yang dinyatakan sembuh.

Terkait hal itu, Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 RS Sele Be Solu Kota Sorong dr Meilin Riko, angkat bicara. Kepada awak media, dr Meilin menjelaskan faktor kesembuhan untuk semua penyakit ada dua, yaitu faktor medis dan non medis.

Yang mana, kata dia, faktor medis, merupakan tugas dari dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya. Yaitu berkaitan dengan pengobatan atau obat-obatan, kemudian status gizi.

“Jadi secara medis, kalau orang-orang yang sekarang ada di karantina itu kan mereka tanpa gejala. Jadi yang kita obati itu, sebenarnya sampai saat ini belum ada untuk mematikan virusnya, yang kita lakukan adalah mengurangi gejala sebenarnya. Nah, kalau orang tanpa gejala, yang kita ikuti adalah pedoman harus dua kali pemeriksaan berturut-turut negatif, baru kita bisa nyatakan seseorang itu tidak terinfeksi oleh COVID-19,” ungkapnya saat ditemui di Posko COVID-19 Kantor Wali Kota Sorong, Rabu (3/6).

Dikatakanya, untuk mereka yang OTG dan dikarantina di Kampung Salak sekarang, harus dilakukan pemeriksaan SWAB dua kali berturut-turut dan hasilnya negatif, baru bisa mereka dinyatakan sembuh, karena mereka tidak punya gejala. Sementara pengertian masyarakat, sambungnya, sembuh itu sakit baru sembuh. “Tapi kalau OTG, dia tidak sakit dalam tanda kutip, karena tidak punya gejala,” sebut dia.

Kemudian faktor non medisnya, sambung dr Meilin, berkaitan secara luas dan lebih banyak ke physico sosial.

“Kebetulan kami dari Ikatan Dokter Indonesia Cabang Sorong, kemarin sempat melakukan kunjungan kesana. Kami sudah melihat ada beberapa faktor yang mungkin belum terpenuhi dan banyak dari mereka yang sampaikan keluhan-keluhan,” ujarnya.

Lanjut dr. Meilin, keluhan yang disampaikan mereka yang dikarantina antara lain, misalnya siapa nanti yang akan membayar biaya kos atau kontrakan mereka. Hal itu, katanya, juga ikut mempengaruhi proses penyembuhan mereka.

“Itu yang kami bilang faktor physico sosial. Jadi kalau ada beban pikiran, kemudian ada masalah diluar medis yang menperberat kondisi fisik, maka akan memperlama waktu recovery atau melawan virus itu sendiri,” tandasnya.

Sementara, dr Farida Siagian menambahkan faktor medis sebenarnya ada dua, yaitu faktor internal dari pasien itu sendiri dan eksternal. Kalau secara fisik, pasiennya statusnya apa, misalnya OTG tidak ada keluhan. Secara physicis dilihat bagaimana, pasti bebannya banyak dan itu semua berpengaruh kepada imun pasien.

“Imunitas kita itu bukan dibentuk secara langsung. Ada proses yang sangat rumit didalam tubuh kita, yang disebut proses imunologi. Proses ini melibatkan banyak hormon, banyak sel dan sebagainya untuk produksi imun. Juga membutuhkan bahan baku untuk imun, yaitu dari gizi. Bagaimana asupan gizinya. Kalau kita lihat, mereka yang ada di Kampung Salak asupan gizi mereka terpenuhi. Bahan bakunya sebenarnya ada untuk menghasilkan imunitas. Terus kita lihat lagi, keluhan mereka tidak ada. Artinya imun mereka sebenarnya kuat, kenapa tidak bisa cepat sembuh? Mungkin ada faktor lain dari eksternal misalnya,” beber Farida.

Diakui dr Farida, Kota Sorong memang lambat dalam melakukan pemeriksaan SWAB. Padahal seharusnya kalau untuk protokol, setelah seseorang dinyatakan positif pertama, maka pemeriksaan SWAB kedua harus dilakukan 14 hari dan setelah itu 7 hari.

“Kita kan agak  lambat disitu. Kenapa? Karena kita masih bergantung untuk melakukan pemeriksaan SWAB di Laboratorium Balitbangkes Makassar. Kemudian sarana prasarana di Kota Sorong juga masih sangat terbatas. Jadi banyak faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan seseorang yang positif COVID-19. Ditambah pasiennya alami stres, bisa saja yang harusnya pasien tersebut sudah negatif, tapi karena stres maka positif lagi,” ungkapnya.

Sehubungan dengan terus adanya penambahan jumlah OTG di Kota Sorong, menurut dr Farida, dari sisi medis, semakin banyak kasus itu merupakan prestasi. Prestasi dalam arti, semakin dekat dengan kenyataan.

“Yang terjadi sekarang, tidak jauh dengan kenyataan. Angka 56, itu bisa saja di masyarakat 5600 sebenarnya. Kita masih fenomena gunung es, kenapa? Karena tidak lambat untuk melakukan pemeriksaan. Jadi tim medis mendorong agar dilakukan pemeriksaan yang masif. Ayo kita semua bergerak, semakin kita bergerak dan semakin banyak kita menjaring dan semakin banyak melakukan pemeriksaan, data yang ada semakin mendekati angka kenyataan di lapangan,” pungkasnya. [JEF-MJ]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *