Jelang Pilkada, Masyarakat Aitinyo Dianjurkan Segera Gelar Tikar Adat

Sorong, PbP – Masyarakat adat dari sub suku Aitinyo yang meliputi 5 distrik di wilayah Kabupaten Maybrat, disarankan segera menggelar musyawarah adat, dalam rangka persiapan menghadapi pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Maybrat yang akan digelar November mendatang.

Semuel Kambuaya, S.Sos
Semuel Kambuaya, S.Sos

Masyarakat adat Aitinyo diharapkan dapat menyatukan persepsi sembari menyusun kekuatan untuk memastikan satu utusan dari sub suku Aitinyo bisa merengkuh kursi 01 di Maybrat pada Pilkada serentak di tahun 2024 ini.

Tokoh intelektual Aitinyo, Semuel Kambuaya, S. Sos mengharapkan agar semua tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan tokoh pemuda Aitinyo segera bersatu, duduk bersama melakukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan masyarakat adat, demi menyatukan komitmen mereka untuk memberikan dukungan kepada calon bupati tertentu yang akan diusulkan mewakili masyarakat adat sub suku Aitinyo untuk bertarung dalam Pilkada serentak tahun 2024.

Menurutnya, sebelum pesta demokrasi ini berjalan, sebaiknya masyarakat adat sub suku Aitinyo di 5 distrik (Aitinyo Induk, Aitinyo Selatan, Aitinyo Barat, Aitinyo Raya dan Distrik Aitinyo Utara), duduk bersama dalam sebuah forum adat yang resmi, guna menyalurkan keinginan dan aspirasi, komitmen politik dan dukungan bagi figur terbaik Aitinyo.

“Yang saya maksudkan duduk bersama ini adalah perlu dilakukannya sebuah forum masyarakat adat sub suku Aitinyo, seperti gelar tikar adat atau musyawarah adat yang tentunya memiliki legitimasi, baik dari sisi hukum maupun dari sisi adat dan politik, sehingga siapa figur terbaik dari yang baik yang akan dilahirkan melalui forum adat itu maka dia itulah figur yang kita harapkan untuk mewakili masyarakat adat sub suku Aitinyo untuk maju dalam pesta demokrasi di Pilkada Maybrat,” ujar Sem.

Ia menambahkan, perlu dilakukannya musyawarah adat supaya bisa mendapatkan kesepakatan, kekompakan dan kesepahaman bersama sehingga pada saat calon bupati tertentu mendaftarkan resmi di KPU, maka otomatis dukungan politik dari masyarakat adat sub suku Aitinyo itu sejalan. Dalam artian tidak perlu ada lagi kubu A atau kubu B.

“Walaupun, hak politik masing-masing orang itu ada, tetapi mumpung kita saat ini ada dalam era otonomi khusus, dan kebetulan masyarakat kita di Maybrat itu hampir 100 persen OAP, jadi otomatis nanti orang yang akan bertarung untuk merebut kursi 01 di Maybrat adalah orang asli Papua yang berasal dari Sub Suku Maybrat, salah satunya dari Aitinyo, sehingga mau tidak mau kita harus siap,” ungkapnya.

Ia mengaku optimistis bahwa sub suku Aitinyo memiliki SDM (sumber daya manusia) yang sudah sangat siap untuk menjadi pemimpin, termasuk menjadi Bupati di Kabupaten Maybrat.

“SDM kita sudah sangat mumpuni, banyak figur yang bisa kita andalkan, bahkan sekarang ini kita komitmen bersama, kita tidak bicara posisi wakil, tapi sekarang Aitinyo Raya bicara target kursi nomor satu di pemerintahan Kabupaten Maybrat,” ungkapnya.

Untuk menuju ke mimpi besar itu, kata Semuel, masyarakat adat suku besar Aitinyo harus segera duduk bersama, dalam forum resmi, semacam forum tikar adat, yang melibatkan seluruh masyarakat adat, tokoh adat, agama dan pemerintahan.

Kemudian melakukan musyawarah adat, lalu forum tertinggi itulah yang nanti akan menentukan siapa figur yang akan diusung oleh masyarakat adat sub suku Aitinyo sebagai sebuah keputusan resmi dan komitmen politik bersama dari masyarakat adat.

“Soal nanti figur itu, dia mendapatkan rekomendasi partai itu ranahnya dia untuk berjuang melakukan lobi-lobi politik, yang penting tugas kita masyarakat sudah menentukan pilihan, sehingga siapapun yang nanti akan diutus mewakili masyarakat adat Aitinyo minimal dia sudah punya basis dukungan yang kuat,” ucap Semuel.

Tentunya, lanjut dia, dengan adanya dukungan resmi dari masyarakat adat, akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi partai politik pemenang Pemilu di Maybrat dalam menentukan pandangan dan dukungan politik bagi calon yang akan bertarung dalam kontestasi Pilkada Maybrat nantinya.

“Tentu jika figur itu memiliki elektabilitas, popularitas bahkan integritas, ditambah lagi ada basis dukungan yang kuat dari masyarakat adat, tentu akan menjadi pertimbangan yang kuat bagi partai politik dalam menentukan arah dukungan. Itulah kenapa perlu kita nyatakan dukungan secara resmi melalui forum adat agar jalan bagi kandidat yang kita usung bisa lebih lapang dan mudah, sehingga bukan tidak mungkin mimpi agar orang Aitinyo bisa jadi pemimpin di Maybrat akan terwujud,” pungkasnya. [JOY]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *