Jualan Beralaskan Tanah dan Beratapkan Langit, Mama-mama Moi Mengadu ke Cartenz Malibela

Mama-mama Papua asli Moi yang ada di Pasar Remu mengeluh, karena mereka berjualan beralaskan tanah dan beratapkan langit. Kondisi ini sudah berlangsung lama, dan sangat miris karena mereka harus menderita di negeri mereka sendiri.

Masa Reses I DPR Papua Barat tahun 2021 menjadi momen baik bagi masyarakat Kota Sorong, khususnya bagi Mama-mama Moi yang berjualan di Pasar Sentral Remu. Kehadiran salah satu anak adat Moi, Cartenz I.O. Malibela yang saat ini duduk di kursi DPR Papua Barat setidaknya membawa sedikit angin segar bagi mereka.

Tak heran dalam resesnya di Kota Sorong sejak 23 April sampai 3 Mei 2021, Cartenz menjadi ajang “pelampiasan” mama-mama Moi. Mereka menyampaikan sejumlah keluhan, salah satunya terkait dengan kondisi mereka berjualan di Pasar Sentral Remu.

Di hadapan Anggota DPR PB jalur Otsus itu, Mama-mama Moi menyampaikan keluhan terkait kondisi tempat jualan mereka di Pasar Remu yang hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit.

Perwakilan Mama-mama Moi yang berjualan di Pasar Remu, Mama Malaseme mengaku sangat menyayangkan kondisi tersebut. Mama-mama Moi, sebut dia seolah terpinggirkan dan hampir tidak bisa mendapatkan hak mereka. Padahal mereka berjualan diatas tanah mereka sendiri.

“Kami tidak pergi berjualan di orang punya tanah. Kami berjualan di tanah kami sendiri, tapi kenapa kami hanya bisa dapat tempat di pinggir-pinggir, di emperan. Kemudian sangat tidak layak, jualan kami ditaruh diatas tanah dan tidak ada atap yang layak,” ujar Mama Malaseme.

Dengan kondisi tersebut, ia mengaku Mama-mama Moi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena kebanyakan barang yang dijual tidak laku. Kondisi, ini sebut dia sudah berlangsung lama dan sering disampaikan kepada pemerintah, namun sampai saat ini tidak ada perhatian sama sekali.

“Kami sudah sering sampaikan kepada pemerintah tetapi tidak ada perhatian. Dari dulu sampai sekarang kami masih berjualan di emperan toko, seperti kami ini bukan pemilik tanah ini,” kata Mama Malaseme.

Hal senada disampaikan Mama Klasuat yang mengaku sangat menderita akibat kondisi tempat jualan mereka yang tidak layak. Dampaknya, dirinya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak, karena minimnya pemasukan setiap hari.

“Kami minta pemerintah perhatikan kami, khusus Mama-mama Moi yang berjualan di Pasar Remu. Tolong beri kami tempat yang layak, supaya kami nyaman berjualan dan jualan kami bisa laku, sehingga kami bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari termasuk biaya anak-anak kami bersekolah,” tegas Mama Klasuat.

Terkait keluhan Mama-mama Moi tersebut, Anggota DPR Papua Barat Cartenz I.O. Malibela mengaku siap memperjuangkan dan mengawal apa yang menjadi aspirasi mereka. Ia berjanji akan menggunakan haknya sebagai anggota DPR untuk bersuara di DPR Papua Barat dan juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Sorong, guna memberikan perhatian kepada Mama-mama Moi yang berjualan di Pasar Remu.

“Sudah menjadi tugas kami untuk menampung semua aspirasi yang disampaikan masyarakat. Pada prinsipnya kami siap memperjuangkan dan mengawal aspirasi ini, agar bisa ada perhatian dari pemerintah,” ujar Cartenz, saat diwawancarai awak media.

Selain secara kelembagaan, Cartenz mengaku secara pribadi ia akan memberikan bantuan berupa pembuatan tenda darurat dari kayu dan senk bagi Mama-mama Moi, khususnya yang berjualan di emperan toko di Pasar Remu.

“Saya sudah survey lokasi dan sudah siapkan material untuk bangun tenda darurat bagi mereka. Hanya itu saja yang sementara ini saya bisa bantu. Selanjutnya, tetap akan saya perjuangkan nasib mereka melalui kelembagaan,” kata Cartenz.

Selain masalah tempat jualan, dalam reses kali ini, Cartenz mengaku mendapat banyak keluhan lain dari masyarakat, khususnya masyarakat Moi di Kota Sorong. Keluhan tersebut diantaranya mengenai biaya pendidikan anak sekolah, pembangunan asrama bagi Mahasiswa Moi se-Jawa-Bali, kemudian pemenuhan hak politik orang Moi dan pengakuan terhadap bahasa, seni dan budaya orang Moi di Kota Sorong.

“Banyak juga masyarakat yang mempertanyakan terkait progres usulan Raperda tentang pengakuan hak hukum adat masyarakat Moi di Kota Sorong. Tapi khusus untuk masalah ini kami akan berkoordinasi dengan rekan-rekan di DPRD Kota Sorong. Nah, khusus untuk kami di DPR Papua Barat, kami memang sedang memikirkan hal itu, hanya saja kami masih menunggu hasil revisi UU Otsus,” sebut Cartenz. [JOY-MJ]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *