Kampung Fiktif, Bupati Tambrauw: Tidak Ada!

Tambrauw, PbP Menyikapi pemberitaan di media masa dan media sosial, yang belakangan ini ramai membicarakan kampung fiktif yang menerima dana desa di Kabupaten Tambrauw, Bupati Tambrauw Gabriel Asem, SE., M.Si dengan tegas membantah semuanya.

Dalam rilis yang diterim media ini, Minggu (16/11), bupati memastikan tidak ada yang namanya kampung fiktif, karena pemekaran kampung di Kabupaten Tambrauw, dilakukan dengan prosedur dan mekanisme yang berdasar pada Peraturan Pemerintah nomor 43 tahun 2014, tentang pelaksanaan Undang-undang nomor 6 tahun 2014, tentang desa.

Mengenai usulan pemekaran, sambung bupati, adalah aspirasi yang disampaikan masyarakat kepada DPRD, kemudian disikapi berdasarkan hak inisiatif dewan dan diteruskan kepada kepala daerah, sehingga dapat diputuskan bersama melalui sidang paripurna dan ditetapkan menjadi peraturan daerah.

“Sebenarnya kata fiktif harus diperjelas, fiktif dalam hal apa? Karena 216 kampung di Kabupaten Tambrauw sudah terdaftar dalam Permendagri nomor 137 tahun 2017 tentang kode dan data wilayah administrasi pemerintah (kabupaten dan kota se-Provinsi Papua Barat),”jelas bupati.

Masing-masing kampung, sambung bupati, juga sudah melaksanakan program dan kegiatan di bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, tambah bupati, dinas terkait juga ikut mengawasi perihal realisasi dana desa. Karena realisasinya tidak tepat sasaran, maka pencairan dana desa tahap berikut akan ditahan.

Bupati juga tak menampik soal sedikitnya jumlah penduduk. Kata bupati, jumlah penduduk di masing-masing kampung memang masih sedikit, namun hal ini bukan hanya terjadi di Kabupaten Tambrauw saja, melainkan hampir di semua kampung di Tanah Papua.

 Selain itu, lanjut bupati, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk mengawasi realisasi setiap kampung penerima dana desa, mulai dari pengecekan posisi dan tata letak perkampung, jumlah penduduk, hingga kelengkapan faslitas di setiap kampung.

“Kami juga menyadari bahwa realisasi dana desa di Kabupaten Tambrauw belum sepenuhnya berjalan, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti minimnya kemampuan kepala kampung mengelola dana tersebut dan tingkat kesulitan lain di setiap kampung. Tak hanya itu, perlu juga diketahui, di Tambrauw ada sekitar 7 kampung yang hanya bisa dijangkau dengan helikopter atau jalan kaki saja,”tutup bupati. [JVN-HM]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

1 Komentar

  1. Benar saja bpak Bupati…. realita yg terjdi lapangan 217 kmpung knpa kasi hilang 1 kmpung geser….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *