Lokalisasi Malanu, Ditutup atau Dipindahkan?

Sorong, PbP – Bergulirnya waktu, letak Lokalisasi Malanu yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman warga, dinilai semakin mengkhawatirkan.

Mulai dari masalah Infeksi Menular Seksual (IMS), hingga masalah sosial, menjadi alasan yang membuat banyak pihak merasa sudah waktunya Lokalisasi Malanu dipindahkan. Bahkan, tidak sedikit tokoh-tokoh di Kota Sorong yang menginginkan agar Lokalisasi Malanu segera ditutup.

Suara-suara yang meminta lokalisasi dipindahkan atau bahkan ditutup, tidak membuat Pemerintah Kota Sorong bergeming. Jangankan wacana, sampai saat ini Pemerintah Kota Sorong masih membiarkan aktivitas di Lokalisasi Malanu berjalan lancar.

Tidak sedikit pula warga yang menilai bahwa Wali Kota Sorong tidak mempunyai nyali untuk memindahkan atau menutup Lokalisasi Malanu, karena merupakan salah satu sumber PAD terbesar bagi Pemerintah Kota Sorong.

Ketua Klasis GKI Sorong, Pdt. Isak Samuel Kwaktolo, S.Th adalah salah satu tokoh yang paling getol menyuarakan agar Lokalisasi Malanu harus ditutup. Menurutnya, lokalisasi harus ditutup karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

“Di dalam lokalisasi kan aktivitas berhubungan badan tanpa adanya hubungan pernikahan atau biasa disebut zinah. Sementara di dalam Alkitab, perzinahan tidak dibenarkan sama sekali, apapun alasannya,”tegas Isak melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Tentunya menurut Isak, sebelum menutup Lokalisasi Malanu, pemerintah harus terlebih dulu melakukan kajian-kajian.

“Kajian tentunya bertujuan untuk mengantisipasi dampak buruk setelah Lokalisasi Malanu ditutup. Seperti meningkatnya angka pemerkosaan dan yang paling fatal adalah PSK akan tinggal di tengah-tengah masyarakat dan menjajakan dirinya secara langsung. Itulah kenapa saya bilang harus ada kajian terlebih dahulu sebelum lokalisasi ini ditutup,”jelas Isak.

Kalaupun tidak bisa ditutup karena memberikan pemasukan bagi Pemerintah Kota Sorong, Isak berharap minimal Lokalisasi Malanu dipindahkan ke tempat yang jauh dari pemukiman masyarakat. Menurutnya, setelah beroperasi selama 45 tahun atau sejak tahun 1975, sudah saatnya Lokalisasi Malanu dipindahkan ke tempat yang sangat jauh dari masyarakat.

“Kalau dulu kan di Malanu masih sangat sepi dan belum banyak masyarakat di sana. Tapi sekarang situasinya sudah berbeda, Malanu sudah menjadi daerah yang padat penduduk. Itulah kenapa saya bilang Lokalisasi Malanu harus ditutup atau minimal dipindahkan, karena dampak buruknya seperti penyakit kelamin dan gangguan sosial dan kenyamanan bagi warga Kota Sorong,”ujar Isak.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Sorong, Aryanto Husni lebih setuju jika Lokalisasi Malanu dipindahkan ke tempat yang lain. 

Ayanto yang ditemui di Aula Masjid Quba belum lama ini, merasa Pemerintah Kota Sorong harus mendengarkan keluh kesah warganya terkait keberadaan Lokalisasi Malanu.

“Jika memang masyarakat tidak nyaman dengan keberadaan Lokalisasi Malanu, Pemerintah Kota Sorong harus mendengarkan dan mengambil tindakan. Dan sudah menjadi tugas kami sebagai wakil rakyat untuk menyuarakan ini kepada pemerintah,”kata Aryanto.

Ditanya soal langkah yang harus diambil Pemerintah Kota Sorong terkait masalah tersebut, Aryanto merasa Lokalisasi Malanu sebaiknya dipindahkan ke tempat yang jauh dari pemukiman warga. Senada dengan Ketua Klasis GKI Sorong, Aryanto merasa lokasi Lokalisasi Malanu harus dijauhkan dari tengah-tengah masyarakat, karena berpotensi menimbulkan penyakit kelamin dan gangguan kehidupan sosial.

“Kita tidak bisa menutup mata, kalau Lokalisasi Malanu ini sangat berpotensi menimbulkan penyakit kelamin seperti HIV dan sebagainya, serta gangguan sosial. Kenapa saya lebih setuju dipindahkan dan bukannya ditutup? Karena saya juga memikirkan dampak setelah lokalisasi itu ditutup,”jelas Aryanto.

Menurut dia, Lokalisasi Malanu hanya perlu dipindahkan, mengingat banyak nasib para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang harus difikirkan oleh pemerintah, jika ingin menutup tempat esek-esek itu. 

“Kalau misalnya Lokalisasi Malanu ini ditutup, otomatis PSK di sana akan menjadi pengangguran. Masih mending kalau mereka diberi pelatihan agar mampu bersaing di dunia kerja setelah berhenti menjadi PSK. Kalau tidak, saya pastikan mereka akan mencari tempat yang lain dan kembali menjadi PSK di sana, seperti yang terjadi di kota-kota besar. Banyak hal yang memang harus difikirkan pemerintah jika ingin menentukan nasib dari Lokalisasi Malanu ini,”tuntasnya.

Dari hasil penelusuran koran ini di lokalisasi, aktivitas jual beli kenikmatan sesaat tak hanya bisa dilakukan di malam hari. Bahkan di siang haripun, para penjajah seks bersedia melayani tamu yang ingin menikmati belaian mereka.

Mulai dari Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu sekali main, para penjajah seks di Lokalisasi Malalanu siap untuk dibelai. Sementara untuk menginap dan merasakan nikmatnya bercinta semalam penuh, para PSK mematok harga dari Rp. 600 ribu hingga Rp. 1,5 juta per malamnya.

Di malam hari, tak hanya aktivitas jual beli kenikmatan yang ditawarkan lolalisasi. Karaoke dan wisata malam berbasis minuman beralkohol juga tersedia di sana. Asalkan pengunjung berani merogoh kocek dalam-dalam, kepuasan dijamin tersaji di depan mata. [GPS-HM]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *