Muhammad Ali: Pemilihan Rektor UMS Telah Melalui Proses Panjang

Sorong, PbP – Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS), DR. Muhammad Ali, MM, MH akhirnya angkat bicara untuk menegaskan sekaligus meluruskan stetmen dari BEM mahasiswa dan alumni UMS Sorong terkait penolakan Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, mereka yang berbicara soal mekanisme di tubuh Muhammadiyah, lebih dikarenakan tidak tahu soal aturan dan mekanisme yang berlaku di Muhammadiyah.

Muhammadiyah, kata dia, sejak dari lahirnya sampai saat ini, dikenal dengan organisasi Islam yang tertib administrasi dan aturan. Segala keputusan yang diambil oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah melalui mekanisme dan prosedur berdasarkan Pedoman Organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia itu. “Muhammadiyah sejak masih jaman penjajahan Belanda telah diakui sebagai organisasi yang sangat tertib administrasi, sehingga sangat keliru bila mengatakan pengangkatan saya sebagai Rektor UMS dipaksakan,” ungkap Muhammad Ali kepada Papua barat Pos di kediamannya, Senin (27/4).

Mekanisme untuk memilih Rektor UMS telah melalui proses yang sangat panjang dimulai sejak Agustus 2019 bahkan belum ada bayangan wabah Covid-19 “Jadi murni sama sekali tidak ada rekayasa,” tegas Muhammad Ali.

Mengingat masa jabatan Rektor UMS akan berakhir 17 Januari 2020, kata Muhammad Ali, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyurati kampus UMS untuk mengajukan nama untuk dipilih oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 29 Agustus 2019. Kemudian tertanggal 20 Desember 2019, Senat Kampus UMS 05/SENAT-SM/XII/2019 telah mengirimkan surat kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengusulkan perpanjangan jabatan satu periode lagi. Surat dari Senat itu, kata dia, ditolak Pimpinan Pusat dengan mengirimkan surat tertanggal 7 Januari 2020 untuk minta berkas usulan calon rector UMS dilengkapi sesuai pedoman Muhammadiyah.

DR. Muhammad Ali MM., MH

“Maka itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah lalu menyurat kembali kepada UMS untuk minta dilakukan rapat senat ulang agar diusulkan tiga nama,” urai Muhammad Ali.

Senat Kampus yang dalam hal ini, diketuai oleh Hermanto lalu mengadakan penjaringan ulang. Hasilnya keluar empat nama. Namun, sesuai aturan yang diminta Pimpinan Pusat Muhammadiyah haruslah tiga nama, maka Senat Kampus kemudian melakukan rapat untuk memutuskan tiga nama dari empat nama hasil penjaringan untuk diusulkan ke Pimpinan Pusat. “Kemudian senat kampus memutuskan tiga nama, salah satunya nama saya. Tiga nama itu, lalu dikirimkan ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui setelah mendapatkan pertimbangan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah,” tuturnya.

Tidak mungkin tiga nama itu, kata Muhammad Ali, diajukan ke Pimpinanan Pusat tanpa persetujuan ketua Senat Kampus UMS periode 2016-2020. Maka itu, Muhammad Ali tegaskan dalam masa kepemimpinannya sebagai Rektor UMS hasil Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2020-2024 tidak ingin menjadi ketua Senat Kampus. “Saya tidak mau jadi ketua senat, agar bebas orang menilai dan dievaluasi kinerja saya,” tegas Muhammad Ali.

Kemudian Muhammad Ali pun menegaskan jabatan Rektor di amal usaha Muhammadiyah adalah petugas ,dan pelayanan, bukan untuk menguasai atau berkuasa. “Rektor itu, jabatan untuk bekerja, bukan berkuasa. Itu pengetahuan saya begitu. Kemudian di Muhammadiyah, jabatan itu, tidak bisa dipaksa-paksakan,” tandasnya.

Sebenarnya, lanjut dia, Pimpinan Pusat sendiri yang akan turun melakukan pelantikan Rektor UMS, hanya saja terjadi wabah Covid-19, sehingga pimpinan pusat memberikan amanat kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Papua Barat atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah buat melantik Rektor UMS. “Jadi proses hingga adanya pelantikan saya sebagai Rektor UMS melalui proses yang panjang. Jangan dilihat akhirnya. Dimana ada masa perpanjangan selama tiga bulan setelah periode Rektor UMS 2016-2020 berakhir pada tanggal 15 Januari 2020 sampai dengan 17 April 2020 yang diberikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk melengkapi berkas, sebab pimpinan Pusat Muhammadiyah tidak mau ada calon tunggal.

“Muhammadiyah memang aturannya begitu, begitu tiba masanya, tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan, karena kasihan itu mahasiswa. Muhammadiyah itu, sangat komitmen dengan mekanisme dan prosedur serta tertib administrasi. Sejak jaman belanda dikenal sebagai organisasi yang disiplin masalah mekanisme dan prosedur, maka itu, dikatakan Muhammadiyah sebagai organisasi modern,” papar Muhammad Ali sembari menambahkan dirinya hanyalah mengabdi. Kemudian mahasiswa ekstra kampus yang demo itukan tentu tahu, bahwa organisasi apapun punya pijakan dalam bertindak yakni Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. “Tidak bisa seseorang berbuat semau dia tanpa mengikuti aturan AD/ART organisasi,” tutupnya.

Untuk diketahui, sebagaimana catatan Papua barat Pos, BEM Kampus UMS beserta yang menamakan diri Alumni UMS melakukan aksi menolak keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang melantik Muhammad Ali sebagai Rektor. Mereka menduga ada kesan memaksakan dalam pelantikan Muhammad Ali. Sementara yang mereka kehendaki bahwa Hermanto kembali dipilih menjadi Rektor UMS. [EYE-SF]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *