Optimis Nadiem untuk Papua Barat

Kabupaten Sorong dipastikan bakal mendapatkan kenaikan Dana BOS Reguler lebih dari 30 persen

Bagai kemarau setahun, hilang tak berbekas dengan hujan sehari. Itulah goresan yang terlihat di wajah dunia pendidikan di Papua Barat, khususnya di Kota dan kabupaten Sorong.  Badai Covid-19 yang melanda nusantara selama setahun membuat pola pendidikan tatap muka beralih ke pendidikan jarak jauh. Tunjangan sertifikasi guru, yang masih menunggak, dan kebutuhan guru lainnya, hilang dan lenyap dalam tiga hari. Tentu saja, kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim telah menjadi hujan selama tiga hari buat dunia pendidikan di Kota dan kabupaten Sorong dari 10 – 12 Februari.

Setelah menelurusi daratan, Menteri beranjak menengok kondisi sekolah di daerah pulau. Pulau Soop , Distrik Sorong Kepulauan , Kota Sorong menjadi start awal pada kunjungan hari ketiga, Jumat (12/2).

Menteri Pendidikan sendiri cukup senang bisa sampai di Pulau tersebut. Hal itu terlihat dari ungkapan kagum dan bangga yang terucap dari kata-kata Mas Nadiem ketika menginjakkan kakinya di tanah Pulau Soop. Pulau dengan kondisi sunyi sepi, tenang dan adem serta masyarakat yang begitu ramah tentu membuat setiap orang yang mengunjungi tempat tersebut akan merasa kerasan.

Pulau Soop merupakan salah satu tempat dari sekian banyak tempat yang masuk dalam daftar kunjungan mentri. Kebetulan, di pulau itu ada sebuah sekolah dasar (SD) yang  berada tepat pada posisi tengah perumahaan warga, sehingga mudah dijangkau.

Namun sayang, pulau yang bersebelahan dengan Pulau Doom belum menikmati listrik. Padahal listrik PLN sudah masuk sejak tahun 2017 namun arusnya belum dialirkan sampai saat ini. Selain listrik, masyarakat pun tidak leluasa melakukan komunikasi internet, karena jaringan internet tidak memadai.

Kendati pun demikian masyarakat sangat menikmati situasi itu, sehingga tak satu pun dari mereka komplain soal kondisi tersebut. Kedatangan Nadiem ke Pulau Soop disambut warga dengan sangat meriah. Anak sekolah dan orangtua sangat antusias.

Sementara para guru hanya bisa berharap kiranya kedatangan Mas Nadiem memberikan harapan baru. Persoalan guru honorer kembali menjadi topik hangat dalam sesi diskusi di halaman SD Inpres 56 Soop.

Lagi-lagi keluhan soal nasib guru honorer jadi topik utama. Selain keluhan guru, pertanyaan senada dari para guru soal pembukaan sekolah tatap muka pun jadi bagian penting dalam pertemuan tersebut.

Ternyata para guru honorer di setiap sekolah yang dikunjungi semacam sudah merasa senasib. Tak ketinggalan, keluhan yang sama pun disampaikan para guru di SMAN 4 Kota Sorong Pulau Doom.

Setiap topik penting dan dianggap urgen pun disampaikan dalam sesi diskusi bersama Mas Nadiem.  Ini menandakan bahwa para guru berada pada situasi genting tanpa sebuah kepastian. Oleh karena itu, kehadiran Mas Mentri dianggap penting untuk mendapatkan berbagai kepastian.

Persoalan-persoalan tersebut merupakan sebuah fakta yang telah dirasa dan didengar secara langsung oleh Mas Nadiem dengan memberikan sebuah kepastian.

Atas dasar itu Mas Nadiem mendapatkan apresiasi dan rasa hormat, karena baru kali ini Mentri Pendidikan dan Kebudayan mampu berdialog langsung dengan para guru di belasan sekolah berbeda tempat.

Ketua PGRI Sorong, John Sagrim tak tanggung-tanggung memberikan rasa hormat dan bangga serta apresiasi kepada Mas Nadiem, karena selama tiga hari berturut-turut menghabiskan waktu untuk berkunjung dan berdialog dengan para guru.

“Selama saya bertugas di Sorong selama 30 tahun ini, belum pernah ada pejabat menteri berkunjung sampai tiga hari, dari kota  sampai ke pelosok untuk berdialog bersama para guru. Baru kali ini, Mas Nadiem datang dan mendengar secara langsung kondisi pendidikan di Sorong Raya,” akunya di balik telepon genggamannya, Minggu (14/2).

Dirinya yakin bahwa Mas Nadiem sudah bisa mendengar langsung keluhan atau aspirasi dari akar rumput tentang perkembangan pendidikan di daerah ini, terutama soal kepastian belajar tatap muka terbatas dan status guru honorer itu sendiri.

Selain itu, apresiasi ini juga berkaitan kunjungan Mas Nadiem untuk melihat perkembangan kebudayaan di Tanah Moi. Ini merupakan sesuatu yang perlu dibanggakan, sebab baru pertama kali Mentri dengan gaya milenial ini, mampu melihat secara dekat kebudayaan Moi di Kota Sorong.

“Kita juga berikan apresiasi kepada beliau karena sudah memberikan kepastian soal status dan nasib honorer ke depan melalui program PPPK,” ucapnya.

Karena menurutnya persoalan kekurangan tenaga guru memang merupakan sebuah kondisi yang dialami oleh seluruh sekolah di Indonesia. Sebagai bentuk jawaban atas kondisi tersebut, Kemendikbud bersama Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementrian Dalam Negeri dan keuangan menemukan sebuah formula baru untuk memberikan kesempatan yang adil bagi para guru honorer yakni PPPK.

PPPK ini bisa diikuti berulang kali selagi masih ada kemauan dan kerja keras dan tentunya kemungkinan lulus bagi peserta tes sangat besar. Karena tes PPPK tidak membatasi umur sehingga seluruh guru honorer yang sudah berumur lebih dari 35 tahun pun diberi kesempatan untuk mengikuti tes PPPK.

Tak ketinggalan pun dana Bantuan Operasional Sekolah  (BOS) juga sudah menjadi perhatian Mas Nadiem. Bahwa jumlah dana BOS di Papua dan Papua Barat akan berbeda dengan daerah lain.

“Ini sebuah kebanggaan buat kita dan kita perlu memberikan apresiasi kepada Mas Nadiem yang sudah tiga hari datang dan dengar langsung dari akar rumput,” ucapnya.

Dikutip dari siaran pers, Menteri Nadiem,  mulai 2021 besaran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler antar daerah tidak lagi sama. Dana BOS nantinya akan menyesuaikan sejumlah faktor penentu yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. Penyesuain besaran Dana BOS Reguler dilakukan demi mendukung percepatan pendidikan di sekolah-sekolah yang berada di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

Dana BOS dihitung berdasarkan jumlah siswa dikalikan satuan biaya yang ditetapkan Kemendikbud. Namun ada pengecualian bagi sekolah di daerah 3T. Bagi sekolah di daerah 3T, meskipun siswanya kurang dari 60 orang, jumlah siswa tetap dihitung 60 orang.

Kabupaten Sorong dipastikan bakal mendapatkan kenaikan Dana BOS Reguler lebih dari 30 persen.  Dana BOS Reguler di daerah 3T akan lebih besar dari daerah lain. Paling tinggi, ada yang mendapat tiga kali dari yang didapatkan pada tahun 2020. Kebijakan ini diambil sebagai salah satu upaya pemerataan pendidikan.

Kebijakan penyesuaian besaran Dana BOS merupakan lanjutan transformasi pembiayaan pendidikan yang dilakukan oleh Kemendikbud dan menjadi prioritas kerja pada 2021.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, B.A.,M.B.A mengaku setiap kunjungan selalu ada masukan, kiritik, saran bahkan aspirasi yang menjadi pekerjaan rumah.

“Intinya bahwa selama tiga hari ini kita duduk dan berdiskusi tujuannya adalah untuk memastikan saja realisasi program pemerintah. Tentunya pasti ada kendala dan itu menjadi pekerjaan rumah,” akunya diakhir kunjungannya, Jumat (12/2).

Diakui bahwa di dunia pendidikan terdapat banyak pekerjaan rumah dan itu menjadi acuan dalam menetapkan setiap kebijakan nantinya. Selanjutnya Mas Nadiem berkisah bahwa sebelum menuju ke Papua Barat, kesiapan diri untuk berhadapan dengan persoalan, kritikan sudah terpikirkan sebelumnya.

Namun setelah tiga hari di wilayah Kota Sorong, ia merasa sangat optimis dengan potensi pendidikan di Papua Barat. “Tidak tau kenapa, saat saya ketemu para guru dan siswa, mereka punya dasar paradigma merdeka belajar, mereka punya kemauan untuk lebih baik. Ini yang terpenting di dalam reformasi pendidikan,” jelasnya.

Karena itu, strategi Kemendikbud harus melepaskan potensi itu. Mungkin, lanjutnya dengan berbagai kondisi dan situasi potensi tersebut masih terikat. Ini saat yang tepat melepaskan potensi setiap guru penggerak yang mau berinovasi dan berkreasi sekaligus mau berpihak kepada murid.

Jadi, setelah 12 sekolah dikunjungi selama tiga hari, kesimpulan yang berhasil diambil adalah banyak potensi yang belum terbebaskan. Jadi, ketika potensi itu dikepas dengan sebuah dukungan tepat sasaran, yakinlah bahwa pendidikan di Papua Barat akan jauh lebih maju sejar dengan sekolah-sekolah lain.

Tak ketinggalan, Staf Khusus Kepresidenan, Billy Mambrasar pun memberikan apresiasi kepada Mas Nadiem yang telah berkunjung untuk melihat secara langsung kondisi pendidikan ke Papua Barat khususnya di Kota Sorong.

Menurutnya Mas Nadiem telah memanifestasikan perintah presiden bahwa fokus pembangunan Papua khususnya di bidang pendidikan terus berjalan.

Dia menilai bahwa di tengah situasi pandemi Covid-19, Kemendikbud telah bekerja cepat, tepat dan kreatif dengan turun dan melihat sekaligus mendengar secara langsung suara akar rumput.

“Saya atas nama masyarakat Papua memberikan apresiasi atas kunjungan Mas Nadiem,” ucapnya. [JVN-SF]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *