Pemkot Wacanakan Gusur Kompleks Pemukiman Kampung Bugis

Sorong, PbP – Kompleks pemukiman warga yang berada di sekitaran lingkungan Kampung Bugis kilo meter 10 masuk Kota Sorong, tidak sesuai dengan tata ruang. Pasalnya, akibat dari bangunan gedung yang terlihat padat penduduknya tersebut, sering rentan terhadap banjir pada saat musim hujan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Sorong Andy Jitmau menjelaskan, mengacu pada  Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang tata ruang, dimana setiap bangunan baik itu gedung pertokoan, perhotelan, maupun perumahan warga, harus sesuai dengan tata ruang yang sudah diatur dalam perencanaan.

“Yang kita pantau selama ini bangunan baik pemukiman warga maupun gedung lainya yang ada di sekitaran kilo meter 10 masuk, mereka bangun tanpa punya ijin dan tidak pernah melihat dampak ke depan. Apabila membangun suatu gedung ataupun rumah kalau melalui prosedur dalam hal ini mengajukan ijin, maka tentunya akan dilihat tata ruang dan memperhatikan dampak lingkungannya,” jelas Andy Jitmau, saat ditemui di kantor Walikota Sorong, Jumat (16/10).

Dikatakan Andy, penataan ruang dalam sebuah pembangunan, harus melihat 10 tahun ke depan, yakni jarak antara bangunan dengan jalan, bangunan tetangga dan memperhatikan fondasi bangunan terhadap jalan dengan target 10 tahun yang akan datang.

Melihat kondisi bangunan pemukiman di Km 10 Kampung Bugis yang dinilainya tidak sesuai tata ruang, ia lantas mewacanakan agar komplek tersebut digusur atau dibongkar, kemudian dilakukan penataan ulang.

“Kalau yang kita lihat di Kilo meter 10 masuk itu, pembangunannya tidak teratur dan tidak sesuai dengan tata ruang yang direncanakan. Olah kerane itu, dalam rencana penataan ruang ke depan, tergantung komitmen pemerintah daerah, bahwa kompleks kampung Bugis harus dibongkar untuk penataan ulang. Kalau terus dibiarkan maka akan terus banjir,” jelas Andy.

Ditegaskan Andy, pihaknya akan kembali berkoodinasi dengan pemerintah daerah agar berkomitmen dalam mengambil sebuah kebijakan yang tegas, demi penataan ruang Kota Sorong yang saat ini masih berdampak buruk yakni salah satunya adalah banjir. Seperti yang terjadi di kilo meter 10 masuk.

“Komitmen pemerintah untuk merubah akan membutuhkan waktu dalam perencanaan dan anggaran tentunya, karena apabila dilakukan perubahan tata ruang tentunya harus ada ganti rugi. Tetapi harus berkomitmen untuk solusi banjir di Kota Sorong bisa teratasi. Jangan masyarakat hanya mau salahkan pemerintah,” tuntasnya.

Sementara, di tempat berbeda Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu menambahkan wilayah kilo meter 10 masuk termasuk kompleks kampung Bugis harus didesain ulang dalam hal ini dilakukan pembongkaran.

“Dalam desain atau pembongkaran ulang ini harus butuh perencanaan yang baik. Karena kompleks kilo meter 10 masuk itu berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Klagison. Warga membangun diatas aliran sungai yang mana jalur yang harus dibangun kanal atau saluran,” kata Kelly kepada media ini di ruang pers kantor Walikota Sorong.

Menurut Kelly, kedepan pemerintah harus mendesain Kanal, untuk bisa mengatur jalur aliran Sungai Klagison yang jalurnya ada pada kompleks kilo meter 10 masuk tersebut.

“Kanal yang dibangun itu adalah seperti Kali Remu, mulai dari gunung sampai di muara,” bebernya.

Dari hasil pantauan pesawat Drone melalui udara, kata Kelly, kompleks kilo meter 10 masuk, dari arah gunung kelihatan adalah sungai, sehingga ketika musim hujan, air akan turun dan tertampung di sekitaran pemukiman sehingga banjir akan terus terjadi.

“Kita tidak bisa mengatur alam. Kita harus menyesuaikan dengan alam. Itu seharusnya jalur air, tapi karena kita sudah bangun dan menghambat, maka sudah pasti harus banjir,” ungkapnya.

Oleh karena itu, solusi bagi komplek kilo meter 10 masuk termasuk kampung Bugis harus didesain jadi kanal, diarakahkan melalui kantor Lembaga pemasyarakat kelas II B Sorong dan dibuang airnya ke jembatan kilo meter 10.

Sufryanto, salah seorang Warga kilo meter 10 masuk mengaku bahwa kompleks tersebut tidak pernah lepas dari banjir ketika musim hujan.

“Kalau hujan deras lebih dari 1 jam lebih, banjir biasa naik hingga pinggang orang dewasa. Adapun hujan biasa walaupun tidak deras juga tetap banjir masuk ke rumah,” ungkap Sufryanto saat ditemui di kediamannya, kemarin.

Namun, kata pria yang mengaku sudah tinggal hampir 14 tahun di sekitaran kompleks kampung Bugis tersebut, mereka sudah biasa dengan banjir saat hujan.

“Kalau air sudah penuh di Got (Drainase) sudah pasti air akan meluap dan masuk ke rumah. Maka itu kita di rumah harus buat tempat yang lebih tinggi agar bisa amankan barang-barang yang dianggap penting,” ujarnya sambil berharap ada solusi dari pemerintah terhadap banjir yang sementara mereka alami hampir setiap hari di bulan Oktober ini.

Pantau media ini, kondisi kompleks perumahan Kampung Bugis selain padat penduduknya, ukuran drainasenya sempit. Terpantau ada beberapa titik yang walaupun tidak hujan, limbah rumah tangga tertampung di drainase dan hampir penuh, sehingga ketika turun hujan maka dengan sendirinya air akan meluap keluar dan banjir. [JEF-MJ]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *