Rumput Laut Olahan OAP Perdana Dikirim  ke Surabaya

Manokwari, PbP – Rumput laut olahan orang asli Papua (OAP) perdana dikirim dari Pelanuhan Manokwari, Provinsi Papua Barat menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur Selasa (27/10).

Pengapalan perdana rumput laut hasil olahan OAP dari Kabupaten Teluk Wondama ditandai dengan diberangkatkannya satu container, yang memuat 20 ton untuk bahan baku industry senilai makanan menggunakan jasa kapal laut, yang dilepas oleh Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan.

Dalam arahannya, Mandacan mengatakan, pembangunan berkelanjutan ini harus dilaksanakan pada semua aspek kehidupan, termasuk upaya peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Dimana, kata dia, pembangunan yang berorientasi pada keberlangsungan dan kepentingan generasi mendatang di masa depan adalah merupakan prioritas pemerintah provinsi di Papua Barat saat ini.

‘’Komitmen tertuang dalam deklarasi provinsi konservasi 2015 dan deklarasi Manokwari 2018, sangat jelas memperlihatkan komitmen dan kemauan untuk berlaku bijaksana, dalam mengelola sumber daya alam demi anak cucu di masa mendatang,’’ jelas Mandacan.

Mandacan melanjutkan, sebagaimana tertuang dalam Perdasus nomor 10 tahun 2019 tentang pembangunan berkelanjutan, bahwa pembangunan ekonomi diarahkan melalui pengembangan ekonomi hijau dengan menitikberatkan komoditas unggulan daerah non divestasi sebagai komoditas unggulan Papua Barat meliputi komoditi kakao, kopi, pala, kelapa, rumput laut dan ekowisata.

‘’Hari ini kita kembali melakukan pelepasan dan pengapalan perdana produksi rumput laut merupakan komoditas unggulan daerah, walaupun dalam situasi pandemi COVID-19, namun kegiatan ini mampu membawa optimisme,’’ ujar Mandacan.

Menurut Mandacan, sebelumnya pada Januari  2020 pihaknya telah melepas pengapalan perdana biji kering kakao dari Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan kualitas premium tujuan Eropa.

‘’Kita akan melepas rumput laut jenis sakol  20 ton produksi budi daya petani di Distrik Roon, Distrik Rumberpon dan Distrik Yoswar Kabupaten Teluk Wondama,  ini bukti nyata, apa yang kita lakukan dengan sepenuh hati, keiklasan akan membuahkan hasil membanggakan, ’’ ungkap Mandacan.

Bahwa bagaimana peran pemerintah pusat,  pemerintah daerah,  mitra pembangunan, program pembangunan ekonomi hijau, UD Naviva sebagai petani pembeli dan petani orang asli Papua yang mendapatkan pendampingan.

Pengembangan rumput laut komoditas lokal unggulan non divestasi di Papua Barat adalah program prioritas dan kebijakan utama pemerintah daerah Papua Barat, dalam rangka pembangunan ekonomi hijau berkelanjutan.

Mandacan menuturkan, telah memerintahkan dibentuk satuan tugas komoditi unggulan,  termasuk komoditi rumput laut yang beranggotakan dari sektor hulu sampai hilir adalah mitra pembangunan program pengembangan ekonomi hijau.

Hal yang perlu diperhatikan terkait itu adalah,  pertama untuk lebih meningkatkan hasil produksi dan nilai tambah produk rumput laut perlu segera disusun rencana induk pengembangan dari dan rencana usaha  sehingga lebih terarah,  efisien dan efektif.

‘’Untuk  pengembangan komoditas ini kepada OPD teknis di pemerintah Papua Barat dan kabupaten Teluk Wondama mengambil peran lebih besar dalam pembinaan petani rumput laut orang asli Papua,  sehingga akan lebih cepat peningkatan produksi,  pendapatan dan kesejahteraan,’’ ucap Mandacan.

Kepada perbankan Mandacan memohon bantuan memberikan asistensi peningkatan kapasitas petani dan permodalan,  dalam usaha budidaya rumput laut dan perlu didukung semua pihak, untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan industri dan ekonomi kreatif dan inovatif,  terutama di kalangan petani dan nelayan yang membudidayakan rumput laut.

Sementara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daera Provinsi Papua Barat, Pro, DR Charly D. Heatubun,  S.Hut.,M.Si dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen pengembangan ekonomi hijau berbasis komoditas unggulan daerah, yang diamanatkan dalam deklarasi Manokwari hasil konferensi internasional keanekaragaman hayati,  ekowisata dan ekonomi kreatif  ICBI 2018.

Hetabun menjelaskan, pemerintah Kerajaan Inggris berkomitmen membantu provinsi Papua dan Papua Barat sebesar Rp 400 miliar dan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat tinggi investasi hijau di Sorong,  dengan program pengembangan ekonomi hijau sebagai implementator dari  MoU  tersebut  antara pemerintah Inggris (UKCCU) dengan  Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal dengan durasi tiga tahun.

Rumput laut yang dikapalkan tujuan Surabaya 20 ton hasil produksi petani orang asli Papua asal kampung Yende, Mena dan  Niyap Distrik Roon, juga Kampung Yembe Kiri, Nusrowi ,  Isenebuay  Distrik Rumberpon dan Kampung  Yomber Distrik Yoswar,  Kabupaten Teluk Wondama. Yang sebelumnya telah berproduksi 85,5 ton hasil uji coba yang juga sudah didistribusikan.

Sementara harga rumput laut petani di kampung sebesar Rp 6.000 per kilogram sedangkan harga jual di Surbaya Rp 18.000 per kilogram. Sehingga dengan hasil jual 20 tahun pada hari ini ada total uang beredar Rp 120. 000. 000 di kampung-kampung tadi.

Penandatanganan komitmen kerjasama program ekonomi hijau dengan Kabupaten Teluk Wondama, dilanjutan expose produk turunan rumput laut berupa aneka makanan ringan atau snack yang berasal dari rumput laut di Mansinam Beach Hotel. [ARS-MJ]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *