Sanggar Seni Nani Bili Nama Naik

Puluhan tahun berjuang dalam kondisi terbatas. Selain gedung, ternyata ruang ekspresi seni pun tidak tersedia

Sebuah prestasi gemilang tentu menjadi acuan dan dasar bagi orang untuk berkunjung. Kehebatan tersebut yang sudah terbukti baik dikanca nasional maupun internasional tentunya menjadi satu alasan terbaik bagi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, B.A.,M.B.A. untuk memilih nama Sanggar Seni Nani Bili masuk dalam daftar kunjungannya.

Hebatnya bukan main. Padahal di Kota Sorong sendiri ada dua puluh sanggar yang tersebar dimana-mana, namun Sanggar Seni Nani Bili terpilih dan menjadi target Mas Nadiem, sapanya.

Di satu sisi, sanggar ini bangga bahwa kualitas potensi anak-anak sanggar yang telah dipertonton dengan jam terbang tinggi menjadi incaran orang penting di negeri ini. Namun di lain sisi tersirat secara jelas dan pasti tentang hidup dalam  sebuah keterbatasan, minim ruang ekspresi dan ketiadaan dukungan. Keterbatasan ini tentunya tidak menjadi tembok pembatas untuk terus berkreasi, berekspresi.

Perlu diketahui bahwa Sanggar Seni Nani Bili hingga saat ini belum memiliki sebuah gedung permanen milik sendiri, sehingga mereka harus menyewa rumah dengan beban biaya dibayar sendiri. Selain gedung, ternyata ruang ekspresi seni pun tidak tersedia. Sudah puluhan tahun sanggar ini berjuang dalam kondisi terbatas.

Kemedekaan ekspesi jiwa masih terkungkung dengan berbagai kondisi dan alasan. Sebuah harapan besar ketika Mentri Pendidikan dan Kebudayaan hadir. Kemerdekaan ekspresi jiwa melalui budaya akan dibuka dan diberikan ruang oleh Mas Nadiem.

Menurut Nadiem, memang benar bahwa seluruh sanggar butuh suntikan dana supaya terus bertahan. Namun cara demikian tidak akan memberikan dampak positif bagi masa depan sanggar itu sendiri. Maka, solusi terbaik adalah mengubah mind set subsidi ke investasi.

Maksudnya bahwa pemerintah tidak terus memberikan subsidi kegiatan keseniaan tetapi konsumsinya tidak meningkat. Itu sama saja stagnan. Makanya perlu dipikirkan sebaik mungkin soal dampak positif yang memang nantinya menjadi modal untuk terus berkembang dan membuat setiap seniman terus eksis dan bertahan.

“Ini kita ciptakan dampak ekonomi real bagi kita sendiri dan masyarakat. Dengan cara ini kan budaya kita tidak mati karena terus dinikmati masyarakat,” jelasnya.

Selain itu Nadiem pun sangat setuju dan mengakui bahwa ketiadaan gedung ekpresi seni tentu merupakan sebuah kendala terbesar bagi anak-anak seniman. Ini, katanya tanggung jawab pemerintah daerah bagaiamana memaksimalkan fasilitas pemerintah yang memang sudah tidak difungsikan untuk dialih fungsikan menjadi gedung pentas seni.

Akhir kata, sebuah hadiah menarik sekaligus cendra mata dari anak-anak Sanggar Seni Nani Bili memberikan sebuah gambar wajah hasil karya anak sanggar kepada Mas Nadiem. Tentu dengan harapan bahwa Mas Nadiem tidak boleh lupa untuk memperhatikan eksistensi sanggar-sanggar di Papua dan Papua Barat khususnya di Kota Sorong. [JVN/JB]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *