Selama 2020, KUA Waisai Nikahkan 48 Catin

Waisai, PbP  – Sejak Januari hingga Desember tahun 2020, Kantor Urusan Agama (KUA) Kota Waisai, Raja Ampat melayani pernikahan pada 48 calon pengantin (catin). Meski situasi virus corona atau Covid-19, proses akad nikah tetap berjalan bagi catin yang sudah mendaftar, dengan tetap mengikuti aturan protokol kesehatan.

“Siapapun calon pengantin yang datang daftar ke KUA, wajib taati protokol kesehatan. Begitu pula disaat akad dibatasi, cukup diwakili catin serta wali dan peserta 10 orang sesuai aturan dari Kementerian Agama RI,” jelas Kepala KUA Distrik Kota Waisai, Jumain, S.IP kepada awak media di ruang kerjanya, Jumat (8/1).

Ia membeberkan, 48 calon pengantin yang telah mendaftar serta melakukan proses akad nikah di KUA wilayah Distrik Kota Waisai tahun 2020, rinciannya pada Januari ada 4 peristiwa nikah, di Februari 6 peristiwa nikah, Maret 1 peristiwa nikah, April 2 peristiwa nikah, Mei nol tidak ada sama sekali, Juni 4 peristiwa nikah.

Kumudian, Juli ada 6 peristiwa nikah, Agustus 8 peristiwa nikah, September 4 peristiwa nikah serta Oktober 7 peristiwa nikah dan November 7 peristiwa nikah serta Desember 2 peristiwa nikah. Dari faktor umur, 48 yang sudah mendaftar diatas usia nikah, dimana catin paling muda 19 tahun serta paling tua 40 tahun.

Untuk persyaratan, lanjut dia, calon pengantin laki-laki maupun perempuan harus berusia 18 tahun serta KTP Waisai. Lalu, akte lahir, ijazah, pas foto untuk akta dan buku nikah. Jika umur dibawah 18 tahun harus dapat rekomendasi di pengadilan, begitu pun KTP dari luar harus ada rekomendasi dari KUA setempat.

“Sebelum mencetak buku nikah, kita lebih dulu periksa berkas catin secara baik. Pasalnya kita sering menemukan catin laki-laki tidak terbuka bagi calon pasangannya terkait status. Contoh kasus, di KTP masih lajang tapi saat divalidasi ke pusat rekam aslinya sudah menikah. Hal ini harus diteliti baik,” kata Jumain.

Menurutnya, selama 2020 sedikitnya ada tujuh kasus yang sudah ditemukan oleh KUA Waisai, Raja Ampat. Dimana pihak laki-laki tak terbuka kepada wanita calon pasangan hidupnya, alias mengaku masih lajang. Akhirnya ketujuh calon pengantin tersebut tidak jadi dinikahkan sebab tidak ada saling keterbukaan itu.

“Meski KTP diganti status lajang jika divalidasi dipusat semua akan ketahuan. Untuk itu harus terbuka dan melampirkan data pendukung dari pengadilan agama berupa, akte cerai atau akte kematian dari catatan sipil. Jika saling terbuka juga tidak ada lagi masalah, kita bisa nikahkan catin tersebut,” tutup Jumain. [TLS-MJ]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *