Siswa SMA YPPK Moria Belajar dengan Modul Dibarengi Daring

Sorong, PbP – Tidak memberatkan orangtua dan siswa menjadi titik focus upaya pembelajaran yang diberikan SMA Yayasan Pembinaan dan Pengembangan Kerohanian Kristen (YPPKK) Moria Kota Sorong di masa Pandemi Covid-19. Dari titik inilah, efektif dan tidak efektif pembelajaran jarak jauh di masa pandemic dinilai.

Kepala SMA YPPKK Moria Kota Sorong Mujiriyanto, S.Pd kepada Papua barat Pos di Kantor Yayasan Bukit Tabor, Selasa (17/11) menyampaikan efektifnya pembelajaran jarak jauh belum sepenuhnya dirasakan, dikarenakan banyak sekali kendala terutama tidak bisa tetap muka. “Maka itu pembelajaran dilakukan melalui modul dibarengi dengan daring,” kata dia.

Pihak sekolah berharap banyak kepada para siswa untuk lebih aktif mencari sumber-sumber informasi untuk menambah ilmu mereka melalui sumber informasi seperti di google.  “Guru mengarahkan, dan memberikan link kepada murid. Link-link yang diberikan pihak sekolah pun gratis, karena pada intinya dalam pembelajaran tidak membebani orangtua sekaligus tidak memberatkan anak dalam belajar,” ujar Mujiriyanto.

Dengan semangat kasih, pihaknya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak memberatkan anak dalam proses belajar. Karena setiap siswa mempunya kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, ketika siswa nilainya ada kekurangan, harus mengikuti remedial.

Kemudian, lanjut dia, ada bimbingan khusus untuk siswa yang belum paham dan guru pun wajib memberikan remedial kepada murid namun, yang menjadi kendala juga mana kala murid tersebut tidak berada di Sorong untuk melakukan remedial.  “

“Pembelajaran mengunakan sistem modul yang dibarengi dengan daring, banyak siswa yang mengucapkan terimakasih kepada pihak sekolah, karena bahan ngajarnya masih ada,” ungkap Kepsek SMA YPPKK Moria.

Untuk buku-buka pembelajaran yang dilakukan pihak sekolah bekerja sama dengan Erlangga. Hanya saja harga buku ini, terbilang mahal, sebab orangtua siswa ada yang berprofesi nelayan, buruh kasar, ojek sekolah pun tidak bisa memaksa. “Permintaan dari yayasan pun anak tidak boleh di paksa untuk membeli buku,” kata Mujiriyanto memuturkan.

Tidak hanya siswa yang dituntut aktif, tambah dia, guru-guru pun aktif mengikuti video conference yang diselenggarakan oleh dinas provinsi dan kementrian untuk terus mengikuti alur dan perkembangan  yang dianjurkan. [EKA-SF]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *