STIKES Papua Sorong Sekolah Kesehatan Unggulan di Papua Barat

Sorong, PbP – Memasuki usia 15 tahun di bulan Oktober mendatang, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Papua Sorong terus berkembang dan menjadi salah satu sekolah kesehatan unggulan di Papua dan Papua Barat.

Tingginya animo masyarakat memilik STIKES Papua, terbukti dengan jumlah mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang beralamat di Jalan Kanal Victory Km. 10 Kota Sorong tersebut.

Ketua STIKES Papua, Dr. Marthen Sagrim, S.KM, M.Kes saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (25/6) menjelaskan, sampai saat ini animo masyarakat untuk menyekolahkan putra-putri mereka ke STIKES Papua sangat tinggi dan hampir setiap tahunnya selalu melebihi batas target yang ditetapkan.

Dr. Marthen Sagrim, S.KM, M.Kes

Dia menjelaskan, secara kualitas STIKES Papua tak perlu diragukan lagi dan bukti sudah banyak menjelaskan di lapangan, dimana sudah banyak lulusan STIKES Papua yang mengisi pos-pos kesehatan di Papua dan Papua Barat, bahkan di daerah luar.

“Dari segi fasilitas, kami sudah mumpuni dan sudah terakreditasi. Bahkan orang-orang dari luar menggunakan alat-alat kami untuk berpraktek. Karena kami punya peralatan laboratorim yang sangat mumpuni,”jelasnya.

Salah satu hal yang membanggakan, sambung dia, mereka memiliki CBT terbaik, yang sering digunakan orang dari luar seperti Manado, Makassar dan daerah lain untuk melakukan uji kompetensi.

Ditanya mengenai tenaga dosen, kata dia, saat ini seluruh dosen yang ada di STIKES Papua sudah sesuai dengan Permenkes 50 dan 51 tahun 2018, dimana seluruh tenaga dosen mereka sudah bergelar Strata Dua (S2), untuk mengajar calon S1.

“Kami punya empat puluhan tenaga dosen di 5 program studi dan semuanya S2 dan berkompeten di bidangnya. Kami tidak asal-asalan mengambil tenaga pengajar dan dipastikan tak ada S1 mengajar calon S1,”tukasnya.

Sementara untuk tempat praktek, lanjut Sagrim, mereka tak main-main dalam memilih tempat agar para mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka terima di kampus dan belajar di lapangan.

Kata dia, saat ini merekat telah menjalin kerjasama dengan beberapa daerah, untuk tempat prakering mahasiswa-mahasiswi mereka. Mulai dari Sorong, Jayapura, Makassar, hingga Jakarta.

“Untuk Kesmas, kita punya kerjasama di Sorong dan di Makassar, Keperawatan selain di puskesmas Sorong ada juga di Jakarta. Sementara  Farmasi, untuk mengambil profesi apoteker itu di Makassar dan Analis Kesehatan, untuk mengambil keterampilannya ada di Balai Laboratorium Kesehatan Jayapura,”terangnya.

Menurut dia, semua ini dilakukan mereka untuk memastikan kematangan anak didik STIKES Papua, sehingga benar-benar teruji dan menghasilkan tenaga siap pakai.

“Kami tidak ingin yang menilai anak-anak didik STIKES hanya kami sendiri. Makanya kami mengambil institusi dan balai kesehatan, atau orang dari luar untuk menilai mereka,”imbuhnya.

Sagrim juga memastikan, sampai saat ini tak ada lulusan STIKES Papua yang menganggur lama dan tak memiliki pekerjaan pasti. Data yang diberikannya, sejauh ini sudah banyak NJO yang menggunakan tenaga lulusan STIKES Papua, karena alumni mereka pasti menguasai Bahasa Inggris dan mahir dalam komputer.

Namun menurut dia, sampai saat ini mereka masih terus bergumul soal banyaknya mahasiswa dan orang tua yang memiliki keinginan tinggi untuk menyelesaikan pendidikan kesehatan, akan tetapi terkendala perekonomian yang lemah.

“Ini cukup disayangkan. Kita tahu sendiri, pendidikan kesehatan itu mahal dan bahkan cukup mahal untuk mereka yang berekonomi lemah, karena kita harus membayar segala hal yang berkaitan dengan pendidikan, mulai dari teori hingga prakteknya. Oleh karena itu, sekiranya pemerintah dapat melihat ini sebagai satu masalah dan dapat membantu anak-anak Papua dalam menyelesaikan pendidikannya di bidang kesehatan,”tuntasnya. [END-HM]

Please follow and like us:
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *