Tiga Saksi Meringankan Tidak Melihat Ada Penganiayaan

Sorong, PbP – Sidang lanjutan kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh mantan Kapolsek AMH terhadap korban seorang perempuan berinisial BDS kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Sorong, Selasa (11/8). Dalam sidang lanjutan itu, penasehat hukum terdakwa menghadirkan tiga orang saksi yang meringankan.

Ketiga saksi yang hadir itu, saksi Wahyu selaku tetangga kos dari terdakwa, saksi Heri dalam kapasitasnya sebagai koordintor keamanan Hotel yang berada di depan barak kos-kosan yang terdakwa dan korban tinggal, dan yang terakhir adik kandung terdakwa, Febi. Dimana dalam keterangan di depan majelis hakim, ketiga saksi sama sekali tidak tahu ada insiden penganiayaan yang dilakukan terdakwa kepada korban.

Saksi pertama Wahyu yang kesehariannya bekerja melayani jasa las di depan kos-kosan dalam keterangan ketika ditanyakan soal insiden penganiayaan, mengatakan sama sekali tidak tahu. Sebab bila ada terjadi insiden apalagi sampai keluar kos, tentu dirinya bisa melihat. “Saya tidak pernah mendengar teriakan oran minta tolong . dan kalua ada rebut-ribut , pasti kedengaran, tapi tidak ada keributan,” ujar Saksi Wahyu.

Keterangan yang hampir sama pula disampaikan oleh saksi Heri. Saksi mengaku dialah yang mencarikan kos-kosan untuk terdakwa dan korban tinggal. Dan saksi Heri beberapa kali sempat datang ke kos-kosan terdakwa. Kedatangan saksi Heri pada tanggal 18 Desember 2019, tujuannya untuk membawa udang beku yang dia minta kepada adik bosnya. “Setelah saya menyerahkan udang, saya minta juga bagian. Maka terdakwa membagikan udang. Saya tidak langsung jalan, tetapi duduk sekitar 1 jam ,sebab saya melihat ada minuman alcohol luar negeri. Saya lalu minum-minum disitu , sambal minta kalau bisa minuman kaleng untuk hadiah natal dan tahun baru bisa juga dibagi kepada saya,” ucap Saksi Heri.

Saksi ketika datang itu, sama sekali tidak terlalu memperhatikan kondisi korban apakah ada memar, atau sebagainya. Yang saksi tahu hanya, terdakwa sempat memanggil korban untuk keluar kamar memberitahukan kedatangannya membawa udang. “Setelah itu, saya tidak lagi lihat korban. Sebab korban sudah ke dapur,” kata Saksi Heri.

Yang menarik dari persidangan itu adalah keterangan saksi Febi yang merupakan adik dari terdakwa. Saksi Febi dalam memberikan keterangan sempat berlinang air mata ketika menyebut ibunya yang ada di Ambon. Dalam pengakuannya, Saksi Febi membenarkan korban sempat datang dan bermalam di rumahnya dari tanggal 19-22 Desember 2019. “Ketika itu, korban datang sendiri diantar oleh nando yang merupakan anak buah terdakwa. Namun Nando tidak masuk, dia hanya turunkan korban dan langsung pergi. Korban ketika itu, datang tanpa membawa tas atau apapun,” ujar Saksi Febi.

Saksi Febi menyampaikan korban datang dan minta ijin untuk tinggal di rumahnya sebab lagi menunggu kapal untuk ke Bintuni. “Dia bilang bisa numpang tinggal disini,” ujar Saksi Febi. Saksi Febi mengaku tahu bahwa korban punya hubungan dengan terdakwa yang merupakan kakaknya. Namun saksi Febi mengaku tidak terlalu senang dengan hubungan terdakwa dan korban.

Saksi Febi dalam keterangan menyampaikan pernah menasehati terdakwa dan korban. “Saya nasehati korban. Saya tidak setuju , karena saya tidak mau korban selingkuh dengan kakak. Saya bilang, usi masih muda, cantik lagi, kenapa mau ikut saya punya abang, dia kan sudah beristri. Lebih baik usi pergi kasih tinggal dia sudah,” ucap Saksi Febi.

Saksi Febi katakan, korban tidak pernah mengeluh dan malu bercerita kepada dirinya. Apalagi saksi Febi mengaku sangat tidak suka dengan hubungan yang korban dan terdakwa lakukan. Demikian halnya, Saksi Febi menasehati kakaknya melalui telephone ketika sudah berada di Ambon. “Saya bilang stop dengan kelakuan itu, sudah,” kata Saksi Febi.

Melihat linangan air mata saksi Febi, Hakim Anggota I, Dinar Pakpahan lalu menanyakan air mata saksi Febi itu ditujukan buat siapa, terdakwa atau mengingat ibu saksi. Saksi Febi menjawab,” Saya ingat Ibu saya,” ucap Saksi Febi.

Saksi Febi dalam keterangan selanjutnya usai pulang dari Ambon tepatnya tanggal 9 Januari 2020, menyampaikan sempat bingung dengan terdakwa dan korban yang dirinya tahu lagi ada masalah hingga ke Polisi.”Saya juga bingung, karena mereka dua ada masalah tapi ini dorang dua ada jalan sama-sama,” kata Saksi Febi.

Sebelum itu, Saksi Febi pun sudah sempat terkejut ketika dihubungi korban via telephon. Korban menghubungi saksi untuk memberitahukan bahwa dia sudah ganti nomor telpon. Ketika itu, Saksi Febi katakan sempat menanyakan korban ada dimana. “Korban lalu bilang saya ada tinggal sama-sama,” kata Saksi Febi. Terus saksi bertanya baru kalian punya masalah, korban lalu menjawab,” Saya punya syarat gampang saja, saya akan cabut masalah kalua dia mau kawin dengan saya,” kata Saksi Febi menirukan pembicaraannya dengan korban via telephone seluler.

Untuk diketahui terdakwa mantan Kapolsek pada hari Jumat tanggal 13 Desember 2019 sekitar pukul 21.00 Wit sampai dengan tanggal 23 Desember 2019 sekitar jam 01.00 Wit, bertempat di rumah kos terdakwa di belakang hotel Waigo Kota Sorong melakukan penganiayaan terhadap saksi korban BDS yang mengakibatkan luka berat.  Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 351 ayat (1) KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. [EYE-SF]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *