Tokoh Intelektual Suku Maya Desak Gubernur Tinjau Hasil Pansel

Waisai,PbP – Keputusan panitia seleksi (Pansel) terhadap 11 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPR – PB) jalur otsus atau melalui mekanisme pengangkatan periode 2019 – 2024 terus menuai ketidak puasan dari Suku Maya di Raja Ampat. Bahkan mereka berikan ultimatum pada Gubernur Papua Barat agar membatalkan segera hasil dari pada pansel tersebut. 

“Ada 3 point yang jadi pembahasan Suku Maya Raja Ampat ditujukkan pada gubernur sebelum hasil seleksi ini disahkan. Pertama, Suku Maya pertanyakan kredibilitas ketua pansel notabene tak lolos seleksi jadi DPR Otsus di Raja Ampat. Maka, gubernur harus melihat itu”, tegas Tokoh senior intelektual suku Maya Dr.Ir.Gasper Louw, M.Si saat pertemuan, Sabtu, (11/7/20).

Menurutnya, ketidaklolosan ketua pansel calon anggota DPR – PB mekanisme pengangkatan di Raja Ampat, akan pengaruhi tingkatan provinsi. Dan patut dicurigai ada unsur ketidaksenangan bagi calon dari Raja Ampat, serta menghambat mereka tak terpilih didalam 11 kuota kursi DPR otsus ini. Kedua 2 dari tiga calon mewakili Raja Ampat memenuhi semua syarat pansel.

Dimana lanjut dia, Abraham Goram Gaman dan Yohanis Daat telah melewati proses perekrutan yang jelas yakni Musyawarah Besar (Mubes) di Dewan Adat Suku (DAS) Maya, Kabupaten Raja Ampat. Calon anggota DPR ketiga, Yusuf Aitem mendapatkan mandat dari seluruh suku di Raja Ampat untuk maju. Terkait penilaian, dua calon mewakili Raja Ampat juga sangat tinggi.

“Seperti, Abraham Goram Gaman memiliki nilai 193 dan Yohanis Daat memiliki nilai 183,4 lebih tinggi dari beberapa calon – calon yang telah di tentukan oleh pansel provinsi. Dengan itu, kami dari adat suku Maya meminta supaya gubernur Papua Barat meninjau ulang hasil pansel untuk DPR – PB Otsus tersebut. Harus ada perwakilan dari Kabupaten Raja Ampat”, cetusnya.

Point ketiga dari ultimatum suku Maya, Gasper tekankan agar gubernur mempertimbangkan 3 calon anggota DPR – PB otsus dari Raja Ampat. Siapapun dia dari tiga orang ini, harus duduk di kursi DPR-PB Otsus mewakili masyarakat suku Maya secara khusus dan masyarakat adat Raja Ampat secara umum. Hal ini adalah keinginan, dan menjadi harga mati di suku Maya.

“Bila tiga point ultimatum ini tidak diperhatiklan gubernur, kami akan melakukan pemalangan di objek – objek wisata kebanggaan di Raja Ampat Papua Barat. Bukan hanya itu, juga tempat vital dengan sumpah adat bahkan kami pun berjanji tidak akan berpartisipasi dalam proses Pilkada atau memboikot Pilkada Gubernur (Pilgub) jika point ini tidak diperhatikan,” ujarnya. [TLS-SF]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *