UM Sorong Mulai Bertindak Tegas

“Pertanyaan yang di lontarkan oleh mahasiswa melalui aksi ini, semuanya tidak masuk akal,” Sanusi Rahaningmas

Sorong, PbP – Beberapa mahasiswa ditengah kondisi pandemic Covid-19 telah menduduki kampus dan menolak pergantian Rektor UM Sorong oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.  Namun, Rabu (20/5) , dikala hujan deras usai menguyur Kota Sorong, pihak Kampus UM Sorong sudah tidak lagi diam, tindakan tegas mulai dilakukan. Akibatnya ketegangan sempat terjadi di Kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Sorong.

Ketegangan itu, dikarenakan pihak Kampus dibawah komando Rektor UM Sorong, Dr. Muhammad Ali, MM., MH berupaya masuk dan menghentikan aksi beberapa mahasiswa yang telah bertahan di dalam  kampus sejak pemilik hak ulayat membuka palang.

Upaya Dialogis pihak Kampus dengan beberapa mahasiswa yang melakukan aksi di UM Sorong. PbP/CR34

Pihak Civitas UM Sorong memaksa masuk, dikarenakan selama ini, beberapa mahasiswa yang melakukan aksi telah menutup bahkan mengusir dosen untuk beraktifitas di dalam kampus. Tindakan tegas pihak Kampus itu, turut diback Up oleh Personil Polres Sorong Kota dibawah komando Kapolres dan Korps Komando Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Kota Sorong.

Begitu pintu pagar dibuka, pihak Kampus masih bermurah hati mengikuti keinginan beberapa mahasiswa aksi untuk berdialog di ruangan Perpustakaan Kampus UM Sorong bersama Alumni UM Sorong yang kesehariannya duduk sebagai senator di senayan Jakarta mewakili Dapil Papua Barat, Sanusi Rahaningmas.

Sementara mereka lagi berdialog, di luar, KOKAM dibantu beberapa mahasiswa UM Sorong mulai melakukan pembersihan sisa-sisa pembakaran ban dan api saat mahasiswa aksi menuntut pergantian Rektor, serta rerumputan.

Namun dialog itu, gagal sebab beberapa mahasiswa yang membuat aksi, malah satu persatu keluar dari ruangan. Sikap beberapa mahasiswa itu, sempat membuat terjadi ketegangan dan saling adu mulut antar mahasiswa dan dosen yang tidak terima dengan tindakan serta ulah yang diluar batas kewajaran sebagai mahasiswa. Hampir terjadi saling kontak fisik, namun berhasil dihindari oleh Komandan KOKAM bersama personil dan berusaha menenangkan situasi yang sedang memanas.

Pihak kampus lalu memberikan waktu kepada mahasiswa yang membuat geram itu, untuk meninggalkan lokasi tempat mereka tinggal sementara di dalam kampus. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya pihak kampus mengusir paksa dan mengeluarkan semua barang beberapa mahasiswa yang selama ini melakukan aksi keluar dari dalam kampus.

Setelah mereka dikeluarkan dari kampus, pihak kampus menutup gerbang namun, beberapa mahasiswa itu, tidak terima dengan perlakuan yang diterimanya. Aksi dengan orasi pun mereka lakukan di luar gerbang kampus untuk memancing amarah guna terjadinya bentrok fisik.

Anggota DPD RI, Sanusi Rahaningmas selaku Alumni UM Sorong sedang berdialog dengan mahasiswa yang melakukan aksi. PbP/CR34

Anggota DPD RI Sanusi Rahaningmas melontarkan kekecewaannya kepada mahasiswa yang melakukan aksi. Ia mengatakan mahasiswa sama sekali, tidak punya kewenangan untuk mengecek prosedur pengusulan , dan pengangkatan Rektor. “Mahasiswa tidak ada kewenangan untuk mengecek prosedur pengusulan, dan penggangkatan rektor. Kecuali ada dosen yang tidak menggajar dan mahasiswa itu, menuntut dosen tersebut agar dosen menggajar dengan baik,” tutur Sanusi dengan sedikit nada kecewa.

Sanusi berkata, mahasiswa semuanya, tentu berorganisasi, maka seharusnya sikap yang ditempuh harus dengan sikap organisasi. “Tidak ada ketua dengan masa yang abadi, sebab semuanya ada masa pergantian jabatan, jika telah selesai menjabat harus diganti,” papar Sanusi.  

Apalagi, kata dia, sangat tidak etis seorang mahasiswa menekan dosen, sebab tidak mungkin dosen melakukan hal yang salah kepada mahasiswa ketika mahasiswa itu, melakukan hal yang baik. “Saya hadir disini sebagai alumni UMS,” tuturnya.

Sanusi sangat yakin kepada  Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam mengeluarkan suatu keputusan, tentu telah sesuai dengan prosedur. “Jadi banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh mahasiswa melalui aksi itu, semuanya tidak masuk akal,” ucap Sanusi seraya menambahkan SK pengangkatan Rektor periode 2020-2024 yang telah dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan telah dilakukan pelantikan, maka secara hukum itu telah sah.

Sanusi kepada wartawan kembali menegaskan, jangan satu dua orang mahasiswa yang ada disini lalu yang mengatasnamakan ribuan mahasiswa dan alumni, hingga membuat kampus terbengkalai, karena proses penerimaan dan perkuliahan dengan adanya aksi ini menjadi tertunda.  “Jangan sampai akibat aksi ini, membuat calon mahasiswa yang ingin mendaftarkan di kampus ini, menjadi berkurang di bandingkan dengan tahun lalu,” kata Sanusi sembari menegaskan keputusan yang telah diambil Pimpinan Pusat  Muhammadiyah tidak bisa dicabut, karena itu telah sesuai dengan prosedur yang ada.

Sementara di tempat yang sama, Komandan KOKAM Kota Sorong, Imran menegaskan kehadiran anggotanya untuk ikut mengamankan kampus, adalah  komitmen dasar dari lahirnya KOKAM. Dimana KOKAM bertugas untuk mengawal keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Itu sudah secara otomatis, tanpa diperintah pun kami akan langsung turun dan mengamankan,” tutur Imran. Namun personil KOKAM diturunkan , kata Imran, tujuannya ikut membersihkan sisa-sisa aksi mahasiswa yang protes, agar kampus kembali berseri dan sedap dipandang mata. Untuk pengamanan dan menjaga situasi kampus tetap kondusif, dan melakukan aksi bersih-bersih sambung dia tentu KOKAM selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan dan kampus. “Anggota yang kami turunkan, ada di dalam dan di luar kampus,” tukasnya.

Pantauan Papua barat Pos , Kamis (21/5) dikalah tanggal merah, umat Kristiani merayakan Kenaikan Isa Almasih, dan umat Islam tengah berpuasa di dua hari terakhir menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, beberapa mahasiswa yang terusir kembali datang  untuk melakukan aksi, sampai dengan berbuka puasa. Sempat tenjadi ketegangan, namun semua masih bisa dikendalikan dengan baik. Dalam aksinya mereka menuntut agar Pimpinan Pusat Muhammadiyah bisa turun guna menyelesaikan persoalan pergantian Rektor UM Sorong. [CR34-SF]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

1 Komentar

  1. Sebagai insan intelektual seharusnya selalu bersikap dan berpikir positif dan mau menerima SK PP Muhammadiyah tentang penggantian rektor, hal ini sudah sesuai aturan atau kaidah dalam organisasi Muhammadiyah, saya mengharapkan kedepannya mahasiswa harus lebih aktif melakukakan kegiatan-kegiatan positif demi meningkatkan kualitas dan mutu UMS Sorong yang dipimpin oleh Dr. Drs. H. Muhammad Ali,MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *