Umat Muslim se-Papua dan Maluku Berduka

Sorong, PbP – Umat Muslim di Maluku, Papua dan Papua Barat berduka kehilangan motivator dibalik lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Papua Barat   yang juga  pendiri pondok pesantren Nurul Yaqin, H. Muhammad Coya. Almarhum  menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 15:00 WIT, bertempat di kediaman almarhum, Senin (24/8).

Ditemui di rumah duka, Muhammad Salim Nurlily selaku keluarga yang di tinggalkan dengan suara lirih menjelaskan sebelumnya beliau memang memiliki beberapa riwayat penyakit, seperti jantung dan maag. Kemudian karena merasa kurang enak badan beberapa hari ini, pola makan almarhum tidak teratur, sehingga asam lambungnya naik. Beliau minta infus di rumah, karena kalau dibawa ke rumah sakit khawatir akan dibilang pasien Covid-19.

“Sekitar jam tiga sore beliau sempat minta buang air kecil, setelah dibersihkan langsung terbaring istirahat begitu saja. Tetapi sebelumnya di infus oleh mantri yang sering dipanggil keluarga. Bapak meninggal di usia ke 69 tahun”, ucap Salim kepada Papua barat Pos di rumah duka, Senin (24/8) malam.

Beliau di mata keluarga terkenal tegas, bukan hanya sebatas itu saja tetapi juga buat tokoh umat Muslim di Kota dan Kabupaten Sorong. Beliau adalah termasuk sosok yang disepuhkan dan orang yang care terhadap umat, memperhatikan umat, dan sosok yang bertanggung jawab atas setiap apapun yang terjadi.

Saat ditanya tentang adakah pesan terakhir dari almarhum, pada waktu itu Salim sempat berbincang, beliau berkata bahwa saya polisi tetapi juga sebagai seorang Muslim harus bisa menjaga kesatuan umat khususnya yang ada di Papua ini. Kemudian beliau sering mengumpulkan keluarga dan mengingatkan agar jangan malas-malasan, shalat jangan terlambat, termasuk ada beberapa anaknya di tegur. “Kamu itu suka malas shalat, kamu sering terlambat”, kenangnya.

Di rumah sendiri beliau aktif mengajar cucu-cucunya. Almarhum mengatakan ini generasi kita, kalau kita tidak menanamkan kebaikan buat anak cucu, maka ke depan mereka tidak akan menjadi apa-apa. Beliau mengajar ngaji, karena beliau pintar bahasa Inggris cucu-cucunya juga di ajar olehnya.

“Kami keluarga sangat merasa terpukul, kemudian saya baru konfirmasi dengan beberapa tokoh Islam mereka juga merasa cukup kehilangan. Mereka tadi di telpon sampai tidak bisa berbicara. Rekan-rekan dan koleganya yang lain pun sama, bahkan sampai menangis”, tambah Salim dengan suara pelan.

“Beliau berpesan agar jaga persatuan dan jaga nasionalisme. Beliau berkata kepada saya karena polisi, Indonesia dibangun oleh umat Islam, maka jaga persatuan antara umat Islam dan bangsa Indonesia, sebab hubungannya sangat erat. Tidak boleh dipisahkan antar keduanya”, bebernya.

Salim mewakili keluarga memohon maaf apabila almarhum memiliki kesalahan baik sikap, perilaku, dan tindakan mohon kiranya di maafkan. “Apabila ada hutang piutang dan lain sebagainya tolong segera dikomunikasikan kepada kita keluarga. Biar kami dapat mengkomunikasikannya”, tutup Salim.

Sementara itu, Jofi selaku warga sekitar mengatakan walau almarhum agak tertutup karena mungkin kondisi kesehatan yang menyebabkan harus banyak istirahat. Tetapi beliau adalah sosok yang dermawan bagi warga yang membutuhkan bantuan, oleh karena itu warga sekitar semuanya pasti mengenal almarhum.

Dari pengamatan media ini, rumah duka telah cukup lengang dikarenakan waktu yang semakin malam. Terlihat Wakil Wali Kota Sorong, Imam Masjid di Sorong, tokoh umat Muslim, dan anggota dewan turut hadir melayat di rumah duka, sebab kepergian almarhum sungguh mengejutkan banyak pihak.

Suara turut berduka pun turut disampaikan oleh sahabat Almarhum di Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.  Untuk pemakaman, dijadwalkan dilaksanakan pada Selasa pukul 10 pagi di TPU Rufei tepat di sebelah makam anak almarhum. [CR35-SF]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *