KNMP Wamargege Didorong Perkuat Ekonomi Nelayan dan Potensi Udang Banana Sorong Selatan

0
IMG-20261022-WA0013

SORONG SELATAN, PbP- Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kampung Wamargege, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, menjadi salah satu upaya memperkuat infrastruktur perikanan sekaligus mengoptimalkan potensi udang banana yang menjadi komoditas andalan masyarakat pesisir.

 

Pembangunan kawasan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Sorong Selatan Petronela Krenak bersama Wakil Bupati Yohan Bodori dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pada 12 Juli 2026.

 

Program ini diharapkan dapat mendukung aktivitas nelayan melalui sarana perikanan yang lebih memadai dan membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat setempat.

 

Wakil Bupati Sorong Selatan Yohan Bodori menyampaikan apresiasi terhadap program pemerintah pusat tersebut.

 

Dalam pemberitaan Radio Republik Indonesia (RRI) pada 21 Juli 2026, ia mengatakan, “Potensi perairan di Sorong Selatan sangat melimpah. Baik itu ikan, kepiting dan udang.”

 

Ia juga menyebut udang banana sebagai salah satu komoditas yang tersedia di wilayah tersebut.

 

Potensi itu menjadi modal penting bagi masyarakat Kampung Wamargege dan Kampung Konda yang selama ini menggantungkan sebagian penghidupan pada sektor perikanan.

 

Laporan TelusuRI berjudul Mendambakan Kedaulatan Udang Sorong Selatan, yang terbit pada 6 Januari 2025, mencatat bahwa udang banana merupakan komoditas utama hasil tangkapan masyarakat di kedua kampung tersebut.

 

Laporan itu mengutip penelitian yang menyebut sekitar 50–70 persen hasil tangkapan masyarakat Konda dan Wamargege berupa udang banana.

 

Aktivitas penangkapan udang banana juga memiliki pola musim tertentu.

 

Berdasarkan laporan TelusuRI, periode puncak penangkapan umumnya berlangsung pada Maret–Mei dan Oktober–Desember. Pada masa tersebut, hasil tangkapan berpotensi meningkat sehingga penanganan pascapanen, penyimpanan, dan akses pemasaran menjadi faktor penting untuk menjaga mutu produk sekaligus memperkuat posisi tawar nelayan.

 

Kehadiran KNMP di Wamargege diharapkan dapat mendukung kebutuhan tersebut melalui pengembangan fasilitas perikanan yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Infrastruktur yang direncanakan dan dibangun perlu terhubung dengan kebutuhan nyata nelayan, mulai dari penanganan hasil tangkapan hingga distribusi kepada pembeli.

 

Namun, manfaatnya akan sangat bergantung pada jenis fasilitas yang tersedia, kesiapan operasional, serta mekanisme pengelolaannya.

 

Salah satu aspek penting dalam pengembangan kawasan perikanan ialah sistem rantai dingin atau cold chain.

 

Udang dan hasil laut lainnya memerlukan penanganan yang higienis serta pengendalian suhu yang tepat sejak ditangkap hingga diterima pembeli.

 

Penyimpanan dingin yang dikelola dengan baik dapat membantu mempertahankan kesegaran dan mutu produk, mengurangi risiko kerusakan, serta memperluas peluang pemasaran.

 

Pengoperasiannya juga membutuhkan pasokan energi, perawatan peralatan, pembiayaan, dan tenaga pengelola yang memadai.

 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam siaran pers pada 5 Juli 2026 mengenai pembekalan pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, menekankan pentingnya pengelolaan aset KNMP secara produktif.

 

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud, menyatakan, “Tugas pengurus adalah mengoperasionalkan aset tersebut agar berputar menjadi profit yang menguntungkan seluruh anggota koperasi.”

 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga bergantung pada kemampuan pengelola menjalankan kegiatan usaha.

 

Selain menjaga mutu hasil tangkapan, pengembangan KNMP berpotensi membuka peluang ekonomi lain bagi masyarakat Wamargege. Kegiatan perdagangan, pengolahan udang, distribusi produk laut, penyediaan kebutuhan melaut, hingga usaha kuliner dapat berkembang apabila didukung permintaan pasar dan model usaha yang berkelanjutan.

 

Pengolahan bagian udang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal juga dapat menjadi peluang usaha tambahan, sepanjang memenuhi standar keamanan pangan dan memiliki pasar yang jelas.

 

Laporan TelusuRI turut menggambarkan inisiatif ekonomi berbasis masyarakat di Konda dan Wamargege, termasuk koperasi yang membantu pemasaran hasil tangkapan serta usaha rumah tangga yang mengolah kepala udang menjadi produk kaldu.

 

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa nilai ekonomi komoditas perikanan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mengelola, mengolah, dan memasarkan produk.

 

Pengembangan KNMP dapat menjadi pelengkap bagi inisiatif lokal semacam ini apabila masyarakat dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaannya.

 

Meski demikian, pembangunan kawasan perikanan perlu disertai tata kelola yang transparan, pembagian manfaat yang jelas, dan akses pasar yang dapat dijangkau nelayan.

 

Kesiapan kelembagaan, keterampilan pengelola, biaya operasional, pemeliharaan fasilitas, serta kepastian pembeli menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

 

Masyarakat setempat juga perlu memperoleh ruang partisipasi agar keberadaan fasilitas benar-benar menjawab kebutuhan nelayan dan memberikan manfaat ekonomi yang terukur.

 

Keberlanjutan sumber daya pesisir juga tidak dapat dipisahkan dari pengembangan ekonomi perikanan Wamargege.

 

Kawasan Konda dan Wamargege memiliki ekosistem mangrove yang menjadi bagian penting habitat berbagai biota perairan.

 

Pemanfaatan udang banana dan komoditas laut lainnya perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga habitat, menerapkan praktik penangkapan yang bertanggung jawab, dan mempertahankan ketersediaan sumber daya bagi generasi berikutnya.

 

Dengan potensi udang banana dan aktivitas perikanan masyarakat yang telah berkembang, KNMP Wamargege memiliki peluang menjadi pengungkit ekonomi pesisir Sorong Selatan.

 

Peluang tersebut akan semakin nyata apabila pembangunan fisik diikuti pengelolaan profesional, fasilitas yang berfungsi sesuai kebutuhan, penguatan usaha masyarakat, serta jaringan pemasaran yang berkelanjutan.

 

Ukuran keberhasilannya pada akhirnya bukan hanya berdirinya kawasan perikanan, melainkan juga manfaat nyata yang dirasakan nelayan dan masyarakat setempat. [MPS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *