Eskalasi Kekerasan di Tambrauw Meningkat, Wakapolda PBD: Tidak Ada Ruang bagi Pelaku Teror

0
IMG-20260319-WA0009

Tambrauw, PbP- Negara menunjukkan sikap tanpa kompromi terhadap eskalasi kekerasan yang menyasar warga sipil di Kabupaten Tambrauw. Aparat keamanan menegaskan tidak ada ruang bagi pelaku teror, menyusul rangkaian serangan yang telah menewaskan sedikitnya tiga orang dalam beberapa pekan terakhir.

 

Pernyataan tegas itu disampaikan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Barat Daya, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa, saat turun langsung ke Distrik Bamusbama bersama Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Rabu (18/3/2026).

 

Kunjungan tersebut menjadi respons cepat atas situasi keamanan yang memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Kehadiran pimpinan daerah dan aparat keamanan sekaligus menegaskan posisi negara yang tetap berdiri di garis depan dalam menjamin keselamatan warga.

 

Data aparat mencatat, sedikitnya tiga korban jiwa jatuh dalam rangkaian serangan tersebut. Salah satunya adalah Abraham Franklin Delano Kambu (22), tenaga honorer Sekretariat Daerah Tambrauw, yang ditemukan meninggal dunia setelah dilaporkan hilang sejak 8 Maret 2026.

 

Korban diduga menjadi target serangan kelompok kriminal bersenjata saat melintas di Distrik Bamusbama sepulang dari Sorong. Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut.

Serangan berikutnya terjadi pada 16 Maret 2026, ketika empat warga sipil diserang dalam perjalanan menuju Sorong. Dua korban meninggal dunia, yakni Yermia Lobo, seorang tenaga kesehatan, serta Yohanes Edwintus Bido, pemuda asal Ende, Nusa Tenggara Timur.

 

Sementara itu, dua korban lainnya berhasil selamat dan saat ini masih menjalani perawatan medis. Rangkaian insiden ini memperkuat urgensi kehadiran negara dalam memastikan keamanan di wilayah yang tergolong rawan konflik.

 

Dalam keterangannya, Wakapolda Papua Barat Daya menegaskan sikap tegas aparat terhadap pelaku kekerasan, sekaligus menyampaikan duka cita kepada keluarga korban. “Tidak ada toleransi bagi para pelaku teror di wilayah Papua Barat Daya, khususnya di Kabupaten Tambrauw,” tegasnya.

 

Ia juga menekankan bahwa stabilitas keamanan tidak bisa hanya bergantung pada aparat, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Peran tokoh adat, tokoh agama, pemerintah setempat, serta partisipasi aktif warga dinilai penting dalam deteksi dini dan pelaporan.

 

Selain penindakan, aparat juga mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap langkah operasi. Wakapolda memerintahkan Kapolres Tambrauw untuk meningkatkan patroli dan deteksi dini, melaksanakan penegakan hukum secara tegas namun humanis, serta memperkuat sinergi dengan TNI dan pemerintah daerah.

 

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi kekerasan terhadap warga sipil dalam bentuk apa pun. Pemerintah daerah juga telah menginstruksikan langkah cepat, mulai dari pendataan korban, penyediaan layanan medis dan psikologis, hingga penyaluran bantuan sosial secara tepat sasaran.

 

Kapolres Tambrauw, AKBP Praja Gandha Wiratama, memastikan kondisi keamanan pascakejadian relatif terkendali meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan. Aparat gabungan saat ini terus melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku secara profesional dan terukur, guna memastikan keamanan masyarakat tetap terjaga. [MPS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *