HUJAN MEMBAWA HARAPAN DAN BERKAH BAGI PETANI DI PAPUA BARAT DAYA
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian Papua Barat Daya, Abner Gasna, S.IP., M.Si
Sorong, PbP – Setelah menghadapi kemarau ekstrem selama kurang lebih lima bulan, kembalinya hujan membawa harapan baru bagi petani di Provinsi Papua Barat Daya untuk kembali mengolah lahan dan mempercepat penanaman padi serta berbagai komoditas pertanian lainnya.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Papua Barat Daya, Abner Basna, mengatakan momentum turunnya hujan perlu dimanfaatkan secara optimal untuk memulihkan aktivitas pertanian, menyesuaikan kalender tanam, dan menjaga produksi pangan daerah. Ia menyampaikan hal tersebut kepada media ini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (12/10/2026).
Menurut Abner, hujan bukan sekadar fenomena alam bagi masyarakat petani, melainkan sumber harapan bagi keberlangsungan usaha tani dan kehidupan keluarga mereka. Ketersediaan air yang kembali membaik memberikan peluang bagi petani untuk memulai kegiatan budidaya setelah mengalami keterbatasan air selama musim kemarau panjang.
“Turunnya hujan menjadi momentum penting bagi petani untuk kembali melakukan aktivitas pertanian. Kondisi ini perlu dimanfaatkan dengan baik agar proses penanaman dapat berjalan kembali dan produksi pertanian tetap terjaga,” demikian inti pentingnya percepatan tanam yang disoroti dalam menghadapi perubahan musim.
Kemarau ekstrem selama kurang lebih lima bulan telah menjadi tantangan bagi petani, terutama mereka yang mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Keterbatasan air menghambat pengolahan lahan, penyemaian benih, hingga penanaman sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Kondisi tersebut juga berpotensi menggeser kalender tanam dan waktu panen. Jika keterlambatan tanam terjadi secara luas, pasokan berbagai komoditas pertanian dapat ikut terdampak. Karena itu, kembalinya hujan menjadi kesempatan untuk mempercepat pemulihan kegiatan produksi sekaligus mengurangi risiko terganggunya ketahanan pangan di Papua Barat Daya.
Abner menekankan bahwa petani perlu memanfaatkan ketersediaan air dengan perencanaan yang tepat. Petani tidak cukup hanya mengandalkan hujan, tetapi juga perlu menyesuaikan waktu pengolahan lahan, pemilihan benih, dan pelaksanaan penanaman dengan kondisi cuaca serta karakteristik lahan masing-masing.
Pada tanaman padi, ketersediaan air memegang peranan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman hingga pembentukan hasil. Kekurangan air pada fase pertumbuhan tertentu dapat menghambat perkembangan tanaman dan berpotensi menurunkan produktivitas. Sementara itu, kebutuhan air pada komoditas lain berbeda-beda, sehingga petani perlu menyesuaikan teknik budidaya dengan jenis tanaman yang dikembangkan.
Selain mempercepat penanaman padi, momentum hujan juga membuka peluang bagi petani untuk kembali membudidayakan komoditas pertanian lainnya. Langkah ini penting untuk menjaga keberagaman produksi pangan, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan mendukung pendapatan petani.
Namun, percepatan tanam harus berjalan seiring dengan kesiapan sarana produksi. Ketersediaan benih, pupuk, alat pertanian, serta pendampingan dari penyuluh menjadi faktor penting agar petani dapat memanfaatkan musim hujan secara efektif. Pemerintah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani perlu memperkuat koordinasi untuk memastikan kegiatan penanaman berlangsung sesuai kondisi lapangan.
Pengelolaan air juga perlu mendapat perhatian agar hujan yang turun dapat dimanfaatkan secara maksimal. Petani perlu menjaga ketersediaan air di lahan dan mengantisipasi kemungkinan perubahan cuaca. Dengan pengaturan yang baik, air hujan dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman tanpa mengabaikan risiko genangan atau kelebihan air pada lahan tertentu.
Abner menilai sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan musim tanam. Melalui pendampingan dan perencanaan yang terarah, petani diharapkan mampu menyesuaikan pola budidaya dengan perubahan iklim serta meminimalkan dampak keterlambatan musim tanam.
Kembalinya hujan setelah kemarau panjang diharapkan menjadi titik awal kebangkitan aktivitas pertanian di Papua Barat Daya. Dengan mempercepat penanaman secara terencana, menyediakan sarana produksi yang memadai, dan memperkuat pendampingan kepada petani, pemerintah bersama masyarakat tani dapat menjaga produktivitas lahan dan kesinambungan pasokan pangan daerah.
Bagi petani, hujan yang kembali turun bukan hanya membawa kesejukan setelah berbulan-bulan menghadapi kekeringan, tetapi juga membuka peluang untuk kembali menanam, memulihkan usaha tani, dan meningkatkan hasil produksi. Momentum tersebut perlu diikuti langkah nyata agar harapan yang muncul bersama turunnya hujan dapat diwujudkan menjadi hasil panen yang bermanfaat bagi masyarakat Papua Barat Daya. [MPS]
