Dari Puasa Makan hingga Puncak Pengabdian, Bupati Sorong Johny Kamuru Launching Dua Buku Biografi Inspiratif

0
IMG-20260129-WA0027

Aimas, PbP- Berawal dari tekad yang kuat dan keyakinan iman, kisah hidup Bupati Sorong Dr. Johny Kamuru, SH., M.Si menjadi potret nyata perjuangan anak pedalaman Papua dalam meraih cita-cita. Saat menempuh pendidikan kuliah di Jayapura, Johny Kamuru bahkan pernah menjalani puasa makan selama satu minggu demi bertahan hidup dan terus melangkah menuju masa depan yang diimpikannya.

 

Johny Kamuru yang berasal dari Suku Moi ini dikenal sebagai sosok sederhana, pekerja keras, dan memiliki komitmen kuat untuk kembali membangun tanah kelahirannya. Perjalanan panjang hidupnya, penuh pergumulan dan pengorbanan, kini diabadikan dalam dua buku biografi yang resmi dilaunching kepada publik.

Buku pertama berjudul “Jejak Jalan: Album Perjalanan Johny Kamuru 1987–2022”, yang merekam jejak langkah dan perjalanan hidup Johny Kamuru sejak masa muda hingga kiprah pengabdiannya di berbagai bidang. Sementara buku kedua berjudul “Anak Moi Pedalaman, 160 Kota Dunia: Jawaban Tuhan atas Doa dan Air Mata di Port Numbay Jayapura 1993”.

 

Kedua buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup Johny Kamuru mulai dari masa pendidikan, pergumulan hidup di perantauan, hingga proses panjang pengabdian yang akhirnya membawanya dipercaya masyarakat menjadi Bupati Sorong. Kisah yang dituturkan tidak hanya memotret keberhasilan, tetapi juga mengungkap cerita tentang doa, air mata, kerja keras, dan nilai-nilai iman yang membentuk karakter seorang anak adat Moi.

 

Dalam buku tersebut tergambar jelas bagaimana seorang anak pedalaman mampu menapaki berbagai kota di dunia, mengukir pengalaman dan pengetahuan, lalu kembali pulang untuk membangun daerah dan masyarakatnya. Kisah inspiratif ini diharapkan menjadi sumber motivasi bagi generasi muda Papua, khususnya Suku Moi.

 

Kegiatan peluncuran buku dirangkai dengan lelang penjualan buku edisi terbatas. Seluruh hasil lelang tersebut diperuntukkan bagi pembangunan Gedung Gereja GKI Silo Malam Karta. Acara ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, hingga para pengusaha.

 

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, mencerminkan kepedulian dan semangat kebersamaan dalam mendukung pembangunan rumah ibadah. Selain berpartisipasi dalam kegiatan sosial keagamaan, para peserta juga merasa bangga dapat memiliki buku yang sarat nilai sejarah, iman, dan inspirasi perjuangan hidup.

 

Bupati Sorong Johny Kamuru dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terbitnya kedua buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa, karena dapat dibaca dan menjadi berkat bagi banyak orang. “Saya sangat bersyukur, ini adalah anugerah yang luar biasa. Khusus untuk para pendeta kita bagikan gratis, sedangkan untuk masyarakat umum kita lakukan lelang terbuka,” ujarnya.

 

Dari hasil lelang yang berlangsung dalam waktu singkat, berhasil terkumpul dana sebesar Rp206.500.000. Dana tersebut sepenuhnya akan digunakan untuk mendukung pembangunan Gedung Gereja GKI Silo Malam Karta, sebagai wujud nyata iman dan kebersamaan umat.

 

Kepada generasi muda-mudi Suku Moi, Johny Kamuru menyampaikan harapan agar kisah hidupnya dapat menjadi inspirasi dan penyemangat. Ia berpesan agar anak-anak Moi tidak pernah minder dengan latar belakang keterbatasan, tetapi justru menjadikannya sebagai kekuatan untuk maju.

Menurutnya, pendidikan, doa, disiplin, dan kerja keras adalah kunci utama untuk mengubah masa depan. Ia berharap generasi muda berani bermimpi besar, tekun mengejar ilmu, menjaga nilai adat dan iman, serta memiliki komitmen untuk kembali membangun tanah Moi dan Papua secara umum, agar kelak lahir lebih banyak pemimpin yang jujur, rendah hati, dan berpihak kepada rakyat.

 

Pada kesempatan tersebut, Bupati Sorong juga mengajak seluruh Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sorong untuk terus bekerja keras dan tetap semangat dalam melayani masyarakat, meskipun di tengah kondisi efisiensi anggaran. Ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh mengurangi semangat pengabdian, pelayanan publik, dan tanggung jawab moral sebagai aparatur pemerintah. [MPS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *